Dark/Light Mode

Pasar Rempah ke Produk Herbal: Cerita Kutus Kutus Menjaga Kualitas Bahan Baku

Rabu, 4 November 2026 20:26 WIB
Foto: Dok. Kutus Kutus.
Foto: Dok. Kutus Kutus.

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjaga kualitas produk herbal bukan hanya soal proses produksi, tetapi juga ketelitian dalam memilih bahan baku. Prinsip tersebut dipegang teguh Kutus Kutus sejak awal merintis usaha.

Berawal dari kebiasaan sederhana berbelanja rempah di pasar tradisional, pendiri sekaligus CEO Kutus Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto atau yang akrab disapa Arniel Sugiharto, membangun standar kualitas yang diterapkan hingga kini.

Arniel mengungkapkan, pemahamannya mengenai bahan baku herbal tidak diperoleh dari buku maupun pelatihan formal.

Pengetahuan itu justru tumbuh dari kebiasaan almarhumah ibunya, Lilies Susanti Handayani, yang hampir setiap pagi buta pergi ke pasar untuk memilih berbagai rempah.

Sejak muda, Arniel terbiasa menemani sang ibu. Ia mengamati bagaimana ibunya mencium aroma, meraba tekstur, membandingkan, hingga menimbang satu per satu bahan yang akan digunakan.

Bagi Arniel, pasar menjadi ruang belajar pertama untuk memahami karakteristik bahan baku berkualitas.

"Dulu saya pikir pergi ke pasar itu hanya soal belanja. Baru setelah dewasa saya sadar, ibu saya sedang mengajari saya sesuatu yang jauh lebih penting: cara mengenali kualitas,” ujar Arniel dalam keterangannya di Denpasar.

Ia menuturkan, ibunya tidak pernah memilih bahan secara sembarangan. Setiap rempah diperiksa dengan teliti.

Baca juga : Gerai Herbal Asal Mayalsia Resmi Buka di Indonesia

Jika tidak sesuai dengan standar yang diinginkan, bahan tersebut akan ditinggalkan meskipun harganya lebih murah.

Dari kebiasaan itu, Arniel memahami bahwa kualitas produk herbal tidak dapat dipisahkan dari kualitas bahan bakunya. Sebaik apa pun proses produksi, hasil akhirnya tidak akan maksimal jika bahan yang digunakan tidak memenuhi standar.

Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam pengelolaan Kutus Kutus, terutama ketika produksinya berkembang dalam skala lebih besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Standar Bahan Baku Tidak Bisa Ditawar

Arniel menjelaskan, setiap bahan baku yang diterima Kutus Kutus harus melewati pemeriksaan. Sejumlah aspek yang diperhatikan meliputi kondisi fisik, keutuhan rempah, serta tidak adanya tanda-tanda jamur.

Pemeriksaan juga mencakup kesesuaian warna dengan karakteristik masing-masing rempah, ketajaman aroma khas, hingga kadar air.

Faktor-faktor tersebut dinilai penting agar bahan tidak mudah rusak dan kualitasnya tetap terjaga.

"Kalau ada satu saja yang tidak lolos, kami tidak memaksakan. Bahan itu kami kembalikan atau kami sisihkan. Ini bukan soal terlalu teliti atau tidak. Ini soal tanggung jawab. Produk ini diminum orang, dioleskan ke tubuh orang. Tidak ada ruang untuk kompromi," tegasnya.

Selain kualitas bahan, pemilihan pemasok juga menjadi perhatian. Menurut Arniel, hubungan dengan pemasok bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan kemitraan jangka panjang yang dibangun atas dasar kepercayaan dan konsistensi.

Baca juga : WHO Puji Bintang Toedjoe, Produk Herbal Indonesia Berkelas Dunia

Pemasok yang memahami standar Kutus Kutus dinilai dapat membantu menjaga kualitas pasokan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, karakter produk tetap terjaga.

"Kalau pemasoknya berganti setiap bulan, rasanya akan berganti setiap bulan. Itu tidak boleh terjadi. Konsumen yang sudah percaya pada satu rasa, satu aroma, satu khasiat, berhak mendapatkan hal yang sama setiap kali mereka membeli," jelas Arniel.

Menjaga Warisan Resep Sang Ibu

Bagi Arniel, konsistensi bahan baku dan proses produksi bukan sekadar persoalan teknis. Hal itu juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan resep sang ibu.

Ia menyebut, resep Kutus Kutus terdiri atas 69 jenis herbal yang hingga kini tidak mengalami perubahan, baik dari sisi komposisi maupun proporsi.

Setiap bahan ditimbang dengan takaran yang sama, diolah melalui urutan yang sama, dan direbus dengan cara yang diwariskan ibunya.

"Yang diwariskan ibu saya bukan cuma daftar bahan. Yang diwariskan adalah cara memperlakukan bahan itu. Ada kesabaran, ada ketelitian, ada rasa hormat terhadap alam. Kalau hari ini saya mengubah cara memilih bahan karena ingin lebih murah atau lebih cepat, maka saya sudah kehilangan inti dari warisan itu," ujarnya.

Hingga kini, sebagian besar proses produksi Kutus Kutus masih dilakukan secara manual, termasuk peracikan dan perebusan.

Arniel menilai, keterlibatan manusia memungkinkan peramu mengenali perubahan halus yang tidak selalu dapat ditangkap mesin, seperti tekstur rebusan yang mulai mengental atau perubahan aroma bahan.

Baca juga : Duh, Obat Kuat Ternyata Membahayakan Jantung

"Mesin bisa menimbang dengan presisi. Tapi mesin tidak bisa mencium aroma yang berubah, tidak bisa meraba tekstur yang mulai mengental. Itu yang membuat kami memilih tetap manual di titik-titik tertentu. Bukan karena kami menolak teknologi, tetapi karena ada nilai yang harus dijaga," kata Arniel.

Kualitas Menjadi Fondasi Kepercayaan

Lebih lanjut, Arniel menilai, tantangan terbesar industri herbal Indonesia saat ini bukan terletak pada ketersediaan bahan baku. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah.

Tantangan utamanya justru kemampuan pelaku usaha mempertahankan standar kualitas secara konsisten.

Menurutnya, konsumen kini semakin cerdas dan kritis. Mereka tidak hanya memperhatikan hasil akhir, tetapi juga ingin mengetahui proses pembuatan produk serta asal bahan baku yang digunakan.

"Kepercayaan itu dibangun dari hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat oleh konsumen. Bagaimana kami memilih bahan di pasar, bagaimana kami menyortir, bagaimana kami menolak bahan yang tidak lolos standar. Semua itu tidak tertulis di kemasan, tetapi semuanya terasa di hasil akhir," ujarnya.

Arniel berharap, semakin banyak pelaku industri herbal Indonesia memahami bahwa kualitas bukan sekadar klaim pemasaran, melainkan disiplin yang harus dijalankan setiap hari, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi.

Ia meyakini, konsistensi dalam menjaga kualitas menjadi salah satu kunci agar industri herbal nasional dapat tumbuh berkelanjutan dan memperoleh kepercayaan, baik di pasar domestik maupun internasional.

"Kualitas itu bukan tujuan akhir, tapi perjalanan yang harus dijalani setiap hari. Mulai dari bangun pagi, pergi ke pasar, memilih bahan, sampai produk sampai ke tangan konsumen. Kalau satu langkah saja dilewati, maka seluruh rantainya akan lemah," tutup Arniel. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.