Dark/Light Mode

Larangan Ekspor Batubara

PDIP Memilih Jalan Oposisi

Jumat, 7 Januari 2022 08:59 WIB
Ekspor batubara/Ilustrasi (Foto: Antara)
Ekspor batubara/Ilustrasi (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Partai NasDem, yang juga partai koalisi Pemerintah, ikut tidak setuju dengan penghentian ekspor batubara ini. Hanya saja, suara penolakan NasDem tidak sekeras PDIP. 

Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Ahmad Ali menyebut, ekspor batubara berdampak baik terhadap pendapatan negara. "Karena itu, kenapa Pemerintah tidak lebih memperketat pengaturan pembagian? Jadi, DMO-nya diatur supaya kemudian beberapa persen dari setiap produksi pemilik IUP (Izin Usaha Pertambangan) itu wajib melakukan penjualan dalam negeri untuk pemenuhan bahan baku dalam negeri, sisanya baru diekspor. Dua-duanya penting," ujarnya.

Baca juga : KSP: Ini Gestur Asli Presiden, Ketika Harus Berpihak Pada Rakyat

Ali juga mempertanyakan apakah PLN dapat menampung semua batubara produksi dalam negeri selama larangan ekspor diberlakukan. Sementara itu, di sisi lain pengusaha ekspor batubara sudah membuat komitmen dengan pembeli di luar negeri.

Sikap PDIP yang memilih jalan oposisi itu menjadi obrolan warga Twitter. Sebagian pengguna heran kenapa partai yang mengusung Jokowi justru menilai kebijakan yang dikeluarkan Jokowi. 

Baca juga : Politisi+Pengusaha Tak Berani Melawan Jokowi

"Berjuang untuk rakyat. Batubara untuk PLTU ditolak. Membela rakyat apa pengusaha. Gagal paham saya," ujar @bonasfa. 

"Katanya konon kabarnya ... PDIP partainya wong cilik & NKRI harga mati. Lha negara sedang butuh batubara untuk kebutuhan PLN kok nggak didukung,” timpal @jokondo_mukidi.

Baca juga : Kali Ini, Kita Bisa Bikin Repot China

Sementara, akun @Ikadarrusman membandingkan sikap PDIP dengan partai lain. “7 Fraksi DPR Dukung Jokowi Larang Ekspor Batu Bara, PDIP Tegas Menolak!,” tulisnya. 

Sementara, pengamat ekonomi Ariston Tjendra berpendapat sama dengan PDIP. Menurutnya, larangan ekspor ini memang berdampak pada kinerja ekspor. Ia khawatir, neraca perdagangan yang selalu surplus, yang ditopang ekspor batubara, akan negatif. Dampaknya, bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah. "Saat ini, surplus neraca perdagangan amat bergantung pada ekspor komoditas yang harganya sedang melonjak," katanya. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.