Dark/Light Mode

Kementan Tingkatkan Pengembangan Budidaya Dan Hilirisasi Ubi Jalar

Senin, 17 Januari 2022 16:39 WIB
Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi (kedua kanan) melihat hasil panen ubi jalar petani yang akan disebar ke pasar/Ist
Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi (kedua kanan) melihat hasil panen ubi jalar petani yang akan disebar ke pasar/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) di tahun ini fokus pada program yang menggairahkan peningkatan produksi dan hilirisasi komoditas pangan lokal, misalnya ubi jalar. 

Komoditas tanaman pangan ini tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan, juga  bahan baku industri dan pakan ternak. Sehingga dapat dipastikan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan memperkuat perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan, ubi jalar merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang sangat berpotensi dikembangkan, baik aspek budidaya maupun hilirisasinya sesuai Program Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam Cara Bertindak (CB2) yakni pengembangan diversifikasi pangan lokal. 

Tahun ini, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui stimulan bantuan pemerintah mengalokasikan pengembangan 2.000 hektar di beberapa lokasi di Indonesia. Dan dalam rangka meningkatkan produksi, bekerja sama dengan perguruan tinggi Unpad juga melakukan demplot perbenihan ubi jalar. 

“Didoronv juga melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat), kemitraan maupun investor untuk pengembangan budidaya ubi jalar. Pola pengelolaan melalui korporasi petani juga terus dikembangkan,” kata Suwandi di Jakarta, Senin (17/1).

Baca juga : Kemenkumham Buat Terobosan Pencatatan Hak Cipta Lebih Cepat

Dia mencontohkan di desa Cilembu Sumedang yang sudah menggandeng offtaker baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri, sudah mengakses KUR dan juga dengan berbagai vareasi olahan yang meningkatkan nilai tambah.

Ubi Jalar merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penghasil karbohidrat, protein, lemak, vitamin A (beta karoten untuk ubi jalar berwarna orange atau kuning), vitamin C dan mineral, serta antosianin yang merupakan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan sebagai pencegah kanker, dan mengikat radikal bebas di dalam tubuh.

Budidaya Ubi Jalar sebetulnya tidak terlalu rumit, namun terkadang saat tanaman sudah mulai terserang hama atau penyakit, ini dapat menyebabkan produktivitas menurun dan kualitas umbi rendah. 

“Karenanya, penerapan budidaya yang tepat sangat diperlukan agar hasil dapat meningkat dan bebas dari serangan hama dan penyakit,” ucap Suwandi.

Sementara, dalam Webinar Bimbingan Teknis Sosialisasi (BTS) Propaktani mengangkat topik Strategi Pengelolaan Hama dan Penyakit Ubi Jalar.

Baca juga : Antam Sulap Eks Pertambangan Liar Jadi Wisata Alam 

Peneliti Ahli Utama Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Badan Litbang Kementan, Yusmani Prayogo menuturkan, faktor keberhasilan pengelolaan hama ubi jalar, antara lain paham jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai penyebab, bioekolagi masing-masing jenis OPT serta teknologi pengendalian yang efektif dan efisien. 

Hama utama pada tanaman ubi jalar adalah penggerek umbi, tungau puru, kumbang daun, kutu kebul dan penggerek batang. 

“Secara umum, strategi pengendaliannya antara lain melalui kultur teknis, penggunaan varietas yag tahan, penggunaan insektisida sintetik dan pengendalian hayati seperti pemasangan trap,” tuturnya.

Peneliti Ahli Utama Balitkabi, Sumartini menjelaskan, penyakit yang meyerang ubi jalar dikategorikan dalam 2 kategori. Yaitu penyakit di pertanaman (seperti bercak daun, kudis dan layu) dan penyakit di gudang seperti busuk lunak, busuk hitam, busuk permukaan dan busuk arang. 

Menurutnya, penyakit ubi jalar di pertanaman dapat diantisipasi dengan penggunaan mulsa plastik yang dinilai lebih baik dari mulsa jerami disamping pemilihan stek yang sehat dan varietas yang tahan. 

Baca juga : Dosen Mercu Buana, Tingkatkan Kemampuan Guru di Wilayah Jakarta Barat Secara Digital

Sedangkan penyakit ubi jalar di gudang dapat dicegah dengan berhati-hati saat panen, jangan sampai membuat luka pada umbi, jangan diletakkan di terik matahari saat panen dan upayakan suhu penyimpanan kurang dari 25◦C.

Sebelumnya, Menteri Pertanian SYL mengatakan, cara bertindak pembangunan pertanian salah satunya dengan pengembangan diversifikasi pangan lokal.

Komoditi pangan lokal Indonesia harus digenjot memasuki pasar-pasar konsumsi internasional. 

Oleh karenanya, pangan lokal harus dipersiapkan dan diperkenalkan dengan baik sehingga mampu menggaet perhatian pasar ekspor.

"Dengan adanya climate change di berbagai belahan negara, membuat ruang bagi produk olahan kita memasuki pasar internasional. Jadi, saat produksi pangan di luar mengalami stagnan, Indonesia harus mengambil posisi untuk mengisi kebutuhan itu," tegas SYL. [KAL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.