Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mendag: Hentikan Perang, Dunia Butuh Kerja Sama Dan Kolaborasi

Minggu, 15 Mei 2022 11:31 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi saat mendampingi Presiden Jokowi dalam Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus ASEAN-Amerika Serikat (AS). (Foto: Istimewa)
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi saat mendampingi Presiden Jokowi dalam Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus ASEAN-Amerika Serikat (AS). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Usai dilanda pandemi Covid-19, dunia justru diterpa masalah baru, yakni perang Rusia-Ukraina. Membawa misi pemulihan ekonomi dunia, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meminta perang segera dihentikan. Mengingat, saat ini dunia butuh sinergi antar negara.

Terbang ke Washington DC, Presiden Joko Widodo yang didampingi Lutfi dan sejumlah menteri lain mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN-Amerika Serikat (AS).

Dalam momentum ini, Lutfi mendapat tugas melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan sejumlah negara ASEAN membahas agenda pemulihan ekonomi kawasan akibat pandemi Covid-19.

Kata Lutfi, Presiden Jokowi memandang peran di Ukraina menciptakan tragedi kemanusiaan dan memperburuk ekonomi dunia. Kenaikan harga pangan, energi, dan inflasi justru membebani perekonomian dan memperlambat tujuan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang dan kurang berkembang. Saat ini, dunia tengah mengalami persoalan baru yang tidak ringan.

Berita Terkait : Jokowi Harap Para CEO AS Bangun Kerja Sama Konkret Di G20

"Presiden Joko Widodo menegaskan seharusnya dunia segera pulih dari pandemi Covid-19. Namun, dunia menghadapi masalah baru, perang di Ukraina. Saat dunia membutuhkan kerja sama dan kolaborasi, justru rivalitas dan konfrontasi makin menajam. Saat dunia membutuhkan multilateralisme yang makin kokoh justru unilateralisme yang makin mengemuka," tutur Lutfi.

Menurutnya, saat ini penentuannya ada di AS dan Eropa dalam menghentikan perang Rusia-Ukraina. "Sekali lagi, menghentikan perang. Bukan memenangkan perang di Ukraina," tegas mantan dubes Indonesia untuk AS itu.

Pasalnya, perang tidak menguntungkan siapapun. Dan setiap negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan enabling environment. Tujuannya, agar perang dapat dihentikan dan perdamaian segera terwujud.

Apalagi, kondisi pertumbuhan ekonomi dunia cukup memprihatinkan. Dana Moneter Internasional atau IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi di emerging and developing Asia sebesar 0,5 persen pada 2022 dan 0,2 persen pada 2023. Bank Dunia juga memprediksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara ASEAN hanya 1,2 persen.

Berita Terkait : Kremlin Bantah Rusia Hentikan Pasokan Gas Ke Finlandia

"Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa kenaikan 10 persen harga minyak dunia akan berdampak pada menurunnya pendapatan nasional beberapa negara ASEAN sebesar 0,7 persen dan kenaikan harga gandum juga akan mengakibatkan peningkatan kemiskinan sebesar 1 persen pada sebagian negara ASEAN," kata Lutfi, meneruskan pesan Presiden.

Selama ini, ASEAN telah membangun arsitektur keamanan yang inklusif, mengedepankan paradigma kolaborasi, mendorong habit of dialogue dan rules based order. Spirit tersebut juga didorong agar bisa dilaksanakan di negara-negara Indo-Pasifik melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Lutfi menyebut, Presiden menyambut baik inisiatif Amerika melalui Indo-Pacific Economic Framework (IPEF). Presiden juga berencana melakukan Indo-Pacific Infrastructure Forum saat Indonesia menjadi ketua ASEAN tahun depan.

"Bapak Presiden berharap partisipasi Amerika Serikat dalam forum tersebut," pungkas Lutfi.

Berita Terkait : Mega Dan JK Dihormati Dunia, RI Kecipratan Wanginya

Sebagai tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo, Mendag menggelar ASEAN Economic Ministers (AEM) Special Meeting di Bali pada 17-18 Mei 2022 mendatang. ■