Dewan Pers

Dark/Light Mode

Usul Perbaikan Sistem Kesehatan Global

Indonesia Diacungi Jempol Sama WHO

Rabu, 16 November 2022 07:55 WIB
Senior Adviser to Director Jenderal World Health Organization (WHO) Bruce Aylward. (Foto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images)
Senior Adviser to Director Jenderal World Health Organization (WHO) Bruce Aylward. (Foto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images)

 Sebelumnya 
“Apa yang terjadi ketika pan­demi seperti Covid-19 menghantam, sistem kesehatan di seluruh dunia mengalami keru­sakan. Karena kita berada dalam dunia yang saling terhubung, kita semua menderita,” ungkapnya.

Sebab itu, masalah sistem kesehatan global perlu kerja sama dan kolaborasi seluruh dunia. Jika hanya satu negara, tentu tidak dapat menyelesaikan masalah ini. Dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi seluruh dunia.

Pada kesempatan yang sama, Chief Economics Food and Agriculture Organization (FAO) Maximo Torero mengatakan, tahun ini dunia sedang manghadapi tantangan terbesar, yakni akses pangan.

Berita Terkait : Kementan Dorong Petani Muda Indonesia Sasar Papua

Masalah akses pangan terjadi selain karena pembatasan selama pandemi Covid-19 untuk mene­kan laju penyebaran virus, juga karena perang Rusia-Ukraina.

Setelah pandemi Covid-19 menurun, harga pangan tetap tinggi karena perang di Ukraina. Alasan utamanya, karena Federasi Rusia dan Ukraina merupakan eksportir dari 30 persen biji gandum untuk dunia. Sementara Federasi Rusia merupakan eksportir utama pupuk dunia.

Akses pangan harus cepat teratasi tahun ini. Soalnya, di tahun depan, yang men­jadi tantangan terbesar adalah ketersediaan pangan.

Berita Terkait : KSP: Pembangunan Papua Perlu Libatkan Strategi Kebudayaan dan Literasi Digital

Masalah ini muncul karena harga pangan yang kian mahal dan imbas dari perang Rusia-Ukraina. Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan besar yang sangat luar biasa.

“Tahun ini kami mengalami masalah yang disebut akses pangan, dan penyebab terjadinya kondisi ini adalah harga pangan yang kian mahal,” ujar Maximo.

Menurutnya, kenaikan harga pangan tertinggi sepanjang se­jarah terjadi pada Maret tahun ini. Kendati sempat turun, na­mun tetap tidak signifikan sehingga harga pangan tetap dinilai tinggi.

Berita Terkait : Pengguna Twitter Beralih Ke Mastadon, Dari Indonesia Belum Bisa Gabung

Masalah akses pangan ini, menurut Maximo, menutup pintu bagi masyarakat pada sum­ber-sumber pangan. Artinya, banyak masyarakat dunia tidak bisa membeli makanan.

“Oleh karena itu, kita sebut ini sebagai masalah akses pangan,” pungkasnya. ■