Dark/Light Mode

50 Tahun Gagal Tekan Kasus DBD

Menkes Tawarkan Wolbachia

Rabu, 29 November 2023 07:30 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (kiri) mengikuti Rapat Kerja dan Rapar Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/11/2023). Rapat tersebut membahas penjelasan terkait implementasi teknologi Wolbachia dalam pengendalian dengue di Indonesia. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka/RM.id)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (kiri) mengikuti Rapat Kerja dan Rapar Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/11/2023). Rapat tersebut membahas penjelasan terkait implementasi teknologi Wolbachia dalam pengendalian dengue di Indonesia. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka/RM.id)

 Sebelumnya 
Budi menjelaskan, dalam program Wolbachia, Pemerintah melepaskan nyamuk sebanyak 12 kali setiap akhir pekan.

Setiap kali pelepasan, jumlahnya tidak melampaui 1 persen dari populasi nyamuk.

Budi memastikan, riset pengendalian DBD dengan nyamuk berwolbachia sudah melalui beragam tahapan ilmiah sejak 2016.

Ada 24 pakar independen yang dilibatkan untuk menganalisis efek jangka panjang pelepasan nyamuk Wolbachia. Termasuk, pakar di luar riset Universitas Gadjah Mada, yakni Universi­tas Indonesia, Institut Pertanian Bogor hingga Universitas Air­langga.

“Penelitian ini sudah lama dilakukan. Semua tahapan-taha­pannya nggak ada yang bypass, semua tahapan-tahapan ilmiah sudah diuji,” tegasnya.

Baca juga : Syarat Indonesia Jadi Negara Maju, Menkes: Masyarakatnya Harus Sehat

Anggota Komisi IX DPR Nur Nadlifah mengingatkan Pemerintah agar penyebaran nyamuk Wolbachia tidak menimbulkan penyakit baru.

Sebab, tujuan awal penye­baran nyamuk tersebut untuk mengurangi populasi nyamuk penyebab DBD bukan justru menimbulkan penyakit baru.

“Jangan sampai tujuan kita memberantas nyamuk Aedes Aegypti dengan cara menghadirkan nyamuk Wolbachia, justru malah menghadirkan penyakit baru lagi,” ujar Nur, mengingatkan.

Politisi PKB ini mengatakan, Komisi IX dalam kunjungan kerja ke Bali beberapa waktu lalu telah dijelaskan bagaimana nyamuk Wolbachia digunakan untuk mengendalikan kasus DBD.

Nur meminta Kemenkes benar-benar serius menuntas­kan penanganan demam berda­rah. Termasuk, dengan tetap mengedukasi masyarakat terkait pencegahan penyebaran virus melalui nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Baca juga : DKI Sebar Nyamuk Wolbachia

Untuk diketahui, Wolbachia adalah bakteri alami 6 dari 10 jenis serangga. Wolbachia dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti dapat menurunkan replikasi virus dengue, sehingga dapat mengurangi kapasitas nyamuk tersebut sebagai vektor dengue.

Mekanisme kerja yang utama melalui kompetisi makanan antara virus dan bakteri, dengan sedikitnya makanan yang bisa menghidupi virus, maka virus tidak dapat berkembang biak.

Terpisah, Peneliti nyamuk Wolbachia dari UGM Prof. Adi Utarini menegaskan, nyamuk Wolbachia aman bagi masyara­kat maupun lingkungan.

“Wolbachia aman bagi manu­sia dan lingkungan. Di Yogya­karta teknologi ini menurunkan kegiatan fogging sebesar 83 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, kajian keamanan Wolbachia sangat penting karena penelitian di Yogyakarta telah dilakukan sejak 2011.

Baca juga : Tekan Kasus Stunting Di DKI, Ini Saran Anggota DPR Christina Aryani

Dia memastikan Wolbachia ini terbukti efektif menurunkan DBD.

“Hasil pemantauan kejadian DBD di Sleman dan Bantul juga menunjukkan penurunan dibanding sebelum pelepasan. Kestabilan hasil ini perlu terus diamati ke depannya,” tandas­nya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu 29/11/2023 dengan judul 50 Tahun Gagal Tekan Kasus DBD, Menkes Tawarkan Wolbachia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.