Dark/Light Mode

Kisah Pelatihan Online Perhutanan Sosial

Petani dan Penyuluh Dapat Ilmu Dengan Cara Baru

Jumat, 1 Mei 2020 12:56 WIB
Swary Utami, anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial, yang menjadi mentor/ pendampingan online perhutanan sosial. (Foto: Istimewa)
Swary Utami, anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial, yang menjadi mentor/ pendampingan online perhutanan sosial. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gara-gara wabah corona, pelatihan hutan sosial pun kini berubah gaya atau sistem online. Kisahnya lucu-lucu dan unik. Maklum hampir semua personil baru belajar teknologi digital.

Berikut ini pengalaman seorang tutor bernama Swary Utami, anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial, yang menceritakan pengalamannya menjadi mentor/ pendampingan online perhutanan sosial gelombang 1 (27-30 April 2020) yang diikuti 480 peserta dari seluruh Indonesia.

Pagi 30 April 2020, saya menggawangi sesi "Pengelolaan Pengetahuan" di Pusdiklat Jakarta. Sebelumnya, 28 April 2020, menjadi tutor "Pendampingan Tahap Awal" di BDLHK Makassar.

Baca juga : Masalah Perut Bisa Menjadi Penyulut Masalah Keamanan

 

Selama empat hari ini, saya terkesan dan senang melihat semangat belajar para pendamping dan petani yang luar biasa.

Peserta, seperti halnya para tutor, belajar melakukan pertemuan belajar jarak jauh atau digital. Banyak kesan lucu. Misal, ada yang bingung menggunakan Zoom, bagaimana mematikan suara, menghidupkan layar dan sebagainya.

Baca juga : Senator Ini Bingung Harga Pertalite Kenapa Nggak Turun-turun?

Tapi ada juga teriakan gembira dan takjub saat gladi resik oleh Balai Latihan Makassar pada Minggu, 26 April 2020. Peserta kaget dan kagum, bisa saling menyapa rekan dan menuangkan rasa rindu karena lama tidak bertemu.

"The new-normal" pun dialami peserta selama 4 kemudian. "The new" karena rata-rata baru menggunakan teknologi digital untuk belajar jarak jauh. "Normal" karena setelahnya, dalam satu dua hari, peserta lancar menggunakan.

Meski, sesekali mengalami gangguan sinyal bagi mereka yang tinggal jauh di suatu desa. Sesekali terdengar teguran seorang peserta kepada temannya yang lupa menggunakan mode "mute" saat tutor memberikan materi. 

Baca juga : Ketua DPD Minta Bansos & Bantuan Pangan Segera Cair

Kelupaan ini mengakibatkan latar suara cukup mengganggu bagi yang lain. Ringkasnya, selama empat hari e-learning LHK, materi padat dan serius sebanyak delapan sesi, bisa dijalani dengan baik dan semangat oleh kebanyakan peserta. Serius tapi santai.

Sebabnya, semua bisa dilakukan tanpa meninggalkan aktivitas yang sedang dikerjakan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.