Dark/Light Mode

Doni Monardo Apresiasi Ponpes Yang Terapkan One Gate System

Senin, 19 Oktober 2020 06:27 WIB
Kepala BNPB, Doni Monardo
Kepala BNPB, Doni Monardo

RM.id  Rakyat Merdeka - Protokol kesehatan one gate system, diterapkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah, Jakarta. Sistem ini ternyata efektif mencegah penularan virus Corona di pesantren dengan 13.500-an santri ini. 

Hal ini dijelaskan Pimpinan Ponpes Darunnajah, Sofwan Manaf. Pada prakteknya, one gate system ini berlaku untuk semua santri, pengasuh dan guru yang sudah sehat, dan tidak bisa keluar masuk pesantren. 

Di ponpes ini, ujarnya, diterapkan kegiatan belajar mengajar luring (luar jaringan, dengan para guru tinggal dalam pondok. Adapun one gate system, lanjut Sofwan, juga mengatur tata cara pertemuan antara wali murid dengan santri. 

Dia mengakui, penerapan sistem ini tidak mudah diterima. Terutama oleh orang tua santri. Jika dulu orang tua bebas berkunjung, saat ini Ponpes Darunnajah menerapkan kunjungan terbatas dengan pendaftaran online.

Berita Terkait : Begini Jurus Ponpes Darunnajah Tekan Covid-19

 “Saat bertemu pun mereka harus menjaga jarak 2 meter. Wali dan murid tidak boleh berkontak fisik,” jelas Sofwan, dalam talkshow Sosialisasi Iman, Aman dan Imun Hadapi Covid-19, di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB, Jakarta, kemarin. 

Lebih jauh dia bercerita, penerapan pembatasan kunjungan ini sempat menuai protes dari orang tua. Tak sedikit pula pengurus pesantren yang akhirnya menjadi sasaran pelampiasan kekecewaan orang tua. 

Namun Sofwan berharap, para orang tua wali santri memahami tujuan diterapkannya one gate system dan pembatasan kunjungan. Karena hal tersebut demi melindungi anak didik dan santri-santri lain di pesantren. 

“Orang tua sebaiknya mendoakan saja anaknya di pesantren agar tetap sehat,” ujarnya. 

Baca Juga : Kunci Lolos Covid: No Stress, No Begadang, Jangan Takabur

Selain itu, Sofwan mengatakan, pesantrennya juga menerapkan disiplin yang harus sedikit dipaksakan. Contoh, siapapun yang tidak memakai masker di dalam pesantren akan dikenakan denda sebesar Rp 250.000. 

“Separuhnya untuk yang melaporkan, separuhnya lagi masuk kas pesantren. Tapi inti penerapan disiplin ini bukan untuk sanksinya. Tapi kepada pemahaman untuk sama-sama menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya. 

Sofwan menjelaskan, sampai saat ini, hanya ada satu kasus virus Corona yang dilaporkan terjadi pada santri. Itu pun kasus yang dibawa dari luar, bukan penularan di dalam pesantren. 

Menurutnya, penerapan one gate system jadi cara terbaik mengatur akses keluar masuk bukan hanya santri. Tapi juga guru, pengurus asrama, hingga pengelola pesantren. 

Baca Juga : Golkar Pede Menang 60 Persen

“Sebelum masuk pesantren, santri diisolasi 2 minggu di rumah dan melakukan rapid test sebelum masuk ke pesantren. Lalu isolasi lagi 2 minggu setelah di dalam pesantren. Ketika sudah di dalam dan sehat ini kita upayakan untuk tidak keluar,” tutur Sofwan. [DIR]