Dark/Light Mode

BPOM Awasi Kualitas Vaksin Sinovac Sampai Daerah

Jumat, 8 Januari 2021 20:29 WIB
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito (Foto: Instagram/bpom_ri)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito (Foto: Instagram/bpom_ri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan, pihaknya mengawasi kualitas vaksin Covid-19 Sinovac sampai daerah. Tujuannya, agar vaksin tersebut tidak rusak.

"Fasilitas penyimpanan secara konsisten stabil di 'cold storage' dengan suhu 2-8 derajat celcius untuk Sinovac ini. Itu diawasi BPOM," kata Penny, dalam jumpa pers daring, di Jakarta, Jumat (8/1) seperti dikutip Antara.

Berita Terkait : Pakai Aplikasi eHAC, Validasi Surat Tes Covid-19 Penumpang Pesawat Lebih Cepat Dan Lancar

Penny mengatakan, dalam mengawal rantai penyimpanan dingin itu, BPOM bersinergi dengan kementerian, lembaga, dan unsur terkait. Agar vaksin yang didistribusikan dari pusat hingga siap disuntikkan tidak rusak. BPOM mengawal produk mulai dari industri farmasi hingga siap untuk diinjeksi ke masyarakat.

Mengenai penggunaan, hingga saat ini BPOM hasil memproses izin penggunaan darurat atau EUA. "Kami menunggu hasil uji klinis vaksin Sinovac fase III di Bandung untuk pengamatan interim tiga bulan yang diberikan hari ini. Nanti kita bahas, tidak lama lagi. Mudah-mudahan segera final sehingga diumumkan EUA tersebut," kata Penny.

Berita Terkait : Jokowi Targetkan, 29 Juta Vaksin Sudah Disebar Ke Daerah Pada Maret 2020

Setelah mendapatkan EUA, lanjut dia, Sinovac akan terus diawasi manfaat, keamanan, dan efek sampingnya. Masyarakat yang mendapatkan vaksinasi dapat melaporkan keluhan kepada pihak penyuntik yang nantinya informasi tersebut akan diteruskan kepada BPOM.

"Masyarakat dapat melaporkan pada fasilitas pertama yang bersangkutan mendapatkan vaksin injeksi. Kemudian layanan kesehatan akan melaporkan pada Komite Daerah KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) kemudian laporkan ke Komisi Nasional Penilai Obat dan dilaporkan ke BPOM pusat farmakovigilans nasional," katanya. [USU]