Dark/Light Mode

Mulai Disebar Ke Daerah

Vaksin Sinovac Bebas Boraks, Formalin, Merkuri

Senin, 4 Januari 2021 06:52 WIB
Juru Bicara Vaksin Covid-19 Bio Farma Bambang Herianto (Foto: Istimewa)
Juru Bicara Vaksin Covid-19 Bio Farma Bambang Herianto (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah bergerak cepat dalam mempersiapkan vaksinasi Corona. Saat ini, 3 juta vaksin Sinovac, yang didatangkan dari China, mulai disebar ke daerah. PT Bio Farma yang ditugaskan sebagai penyalur memastikan, vaksin itu aman dari bahan-bahan berbahaya. Kabar soal vaksin Sinovac mengandung boraks, formalin, dan merkuri cuma hoaks. 

Beberapa hari ini memang banyak hoaks menyesatkan menyebar di media sosial dan WhatsApp. Hoaks tersebut muncul dengan “menggoreng” tulisan “only for clinical trial” yang disebut tercantum dalam kemasan vaksin saat dikirim dari China ke Indonesia. 

Yang menyebar hoaks menyebut, vaksin Sinovac hanya untuk kelinci percobaan. Vaksin Sinovac tidak halal karena berasal dari sel vero atau dari jaringan kera hijau Afrika. Vaksin Sinovac juga berbahaya karena mengandung bahan dasar berbahaya yakni boraks, formalin, aluminium, dan merkuri. 

Berita Terkait : Hoaks, Vaksin Uji Klinis Mau Dipakai Buat Program Vaksinasi

Mendengar hal ini, Juru Bicara Vaksin Covid-19 dari Bio Farma, Bambang Herianto, mencoba menenangkan masyarakat. Dia memastikan, vaksin Sinovac yang digunakan pemerintah bukan vaksin yang digunakan untuk uji klinis. Kemasan yang beredar di media sosial tidak benar. Sebab, vaksin yang digunakan menggunakan kemasan berjenis “vial single dose”. Tidak ada penandaan “only for clinical trial”. 

“Vaksin Covid-19 saat ini sudah berada di Bio Farma, dan akan digunakan untuk program vaksinasi. Nantinya, akan menggunakan vaksin yang telah mendapat izin penggunaan dari Badan POM. Sehingga kemasannya pun akan berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinis,” jelas Bambang, dalam konferensi pers virtual Kementerian Kesehatan, kemarin.

Dia memastikan, vaksin Sinovac final tidak mengandung sel vero. Sel vero memang digunakan sebagai media kultur untuk media tumbuh kembang virus dalam proses memperbanyak virus sebagai bahan baku vaksin. Namun, setelah mendapatkan jumlah yang cukup, virus itu akan dipisahkan dari media pertumbuhan. Sehingga, sel vero dipastikan tidak ikut terbawa sampai proses akhir pembuatan vaksin. "Produk akhir vaksin sudah tidak mengandung sel vero," jelasnya.

Berita Terkait : Yang Bakal Disuntik Sudah Di-SMS, Yang Belum Sabar

Bambang menambahkan, vaksin Sinovac hanya mengandung virus yang sudah dimatikan (inactivated virus). Tidak mengandung sama sekali virus hidup atau yang dilemahkan. Ini merupakan metode paling umum dalam pembuatan vaksin.

Mengenai kehalalan vaksin, Bambang menyebut, saat ini sedang dikaji Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Sedangkan untuk distribusi, Bio Farma akan melibatkan seluruh pihak.

Sejak kemarin, pendistribusian vaksin ke 34 provinsi sudah mulai dilakukan. Bio Farma juga sudah mempersiapkan ruang penyimpanan dingin dengan suhu 2-8 derajat celcius. 

Berita Terkait : 1,8 Juta Dosis Vaksin Sinovac Tiba Di Soekarno-Hatta, Langsung Dibawa Ke Bio Farma

“Insya Allah kita sudah siap. Sehingga vaksin nanti yang akan digunakan di masyarakat benar-benar terjamin mutu dan kualitasnya, dapat dijaga rantai dingin pendistribusiannya sampai dengan di Puskesmas atau bila perlu nanti di Posyandu,” jelas Bambang.
 Selanjutnya