Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Ditelepon Menkeu AS
Sri Mul, Silakan Berbunga-bunga
Sabtu, 13 Maret 2021 06:51 WIB
Sebelumnya
Tahun ini, sejumlah analis memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh positif hingga 5 persen. Hal ini tak lepas dari mulai pulihnya ekonomi negara maju seperti AS, dan China.
Tahun ini misalnya, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam bisa melebihi angka 6 persen. Proyeksi positif itu tak lepas dari disahkannya paket stimulus oleh Kongres senilai Rp 27.000 triliun.
Ekonom Indef, Bhima Yudhistira mengatakan, kabar pemulihan ekonomi AS tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi AS yang positif bisa membuat pemulihan ekonomi Indonesia semakin cepat.
Baca juga : Rudal dan Drone Serang Saudi, AS Warning Warganya Berhati-hati
Dia bilang, ekonomi AS yang mulai pulih akan mendorong sisi permintaan di AS. Permintaan yang meningkat itu jadi kesempatan memperbaiki kinerja ekspor dan harga komoditas unggulan Indonesia.
"Ini bisa menggairahkan ekonomi Indonesia," kata Bhima, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Hanya saja, ia menggarisbawahi, untuk memulihkan ekonomi, Indonesia tak bisa hanya bergantung pada kabar baik dari AS maupun China. Rumusnya ada di pengendalian pandemi.
Baca juga : Terapkan Prokes Ketat, DBL Seri Mataram Berjalan Lancar
Dia juga yakin, setelah Yellen menelpon Sri Mulyani, hubungan kerja sama ekonomi Indonesia-AS akan meningkat. Ini peluang karena pasar ekspor AS cukup besar.
Untuk itu, pemerintah harus mulai melakukan persiapan seperti diversifikasi produk ekspor, sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada produk pakaian jadi, dan alas kaki. Indonesia harus bisa naik kelas menjadi eksportir produk yang nilai tambahnya lebih besar misalnya memasok komponen mobil listrik.
"Peran industri dalam meningkatkan porsi di rantai pasok global perlu didukung oleh perangkat insentif yang tepat sasaran," paparnya.
Baca juga : Banjir Bekasi, Menteri PUPR Siapkan Langkah Ini...
Selanjutnya kerja sama dalam menarik relokasi pabrik dari AS bisa lebih digencarkan. Promosi kepada calon investor di AS sepertinya belum maksimal karena lebih melirik Vietnam dan India ketimbang Indonesia. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya