Dark/Light Mode

Urusan Corona Banyak Kerja, Urusan Pilpres Sedikit Bicara

Emil: Dalam Politik, Semua Kawin Paksa

Jumat, 11 Juni 2021 07:55 WIB
Tangkapan layar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi narasumber Forum Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka, Kamis (10/6) malam. (Foto; Istimewa)
Tangkapan layar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi narasumber Forum Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka, Kamis (10/6) malam. (Foto; Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil tak menampik, tergoda untuk naik kelas ke kancah nasional di Pilpres 2024. Apalagi, namanya kerap masuk dalam bursa capres potensial versi sejumlah lembaga survei. Namun, untuk saat ini, dirinya memilih fokus urus Corona di Jawa Barat. Ada saatnya nanti, bicara urusan pilpres.

Hal tersebut disampaikan Emil, begitu dia disapa, saat menjadi narasumber Forum Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka, tadi malam. Diskusi yang dipandu wartawan senior Rakyat Merdeka, Kiki Iswara dan digelar secara virtual ini, mengambil tema “Gerak Cepat Atasi Lonjakan Covid Pasca Liburan”.

Selama satu jam, Kang Emil bicara banyak soal penanganan Covid-19 di Jabar, terutama dalam mengatasi lonjakan kasus akibat libur Lebaran.

Berita Terkait : Emil Seperti Bunga Yang Sedang Mekar

Selain memaparkan dengan kata-kata, Emil juga menampilkan angka-angka terkait sebaran virus Corona di berbagai wilayah di Jabar.

Namun, dalam paparannya, Emil tak melulu serius. Sesekali ia menyelipkan guyonan, seperti saat bercerita soal seringnya dia melakukan tes swab Corona. Karena seringnya, dia menyebut hidungnya sudah mirip steker atau colokan listrik.

Seminggu ini, kata dia, mungkin sudah 12 kali hidung kanannya dicolok-colok. “Jadi mohon maaf kalau bertemu melihat hidung saya beda sebelah. Itu karena swab,” canda Emil.

Berita Terkait : Emil Tak Seperti Anies Dan Ganjar

Apakah ada lonjakan kasus setelah libur Lebaran lalu? Kata dia, memang ada peningkatan kasus di satu dua kabupaten, tapi tidak melompat dan secara umum bisa tertangani dengan baik. Tak ada ledakan kasus yang mengkhawatirkan.

Menurut dia, kondisi yang baik ini berkat pengalaman saat menangani dampak liburan Natal dan Tahun Baru lalu. Saat itu, terjadi lonjakan kasus yang mengkhawatirkan. Tingkat keterisian di rumah sakit mencapai 80 persen. Padahal, menurut WHO, batas keterisian rumah sakit 60 persen.

Menurut Emil, tingginya kasus Covid-19 saat itu dikarenakan tidak ada imbauan larangan mudik dan tak ada penyekatan seperti yang dilakukan saat Lebaran kemarin. Selain itu PPKM Mikro baru dimulai.

Baca Juga : Pak Jokowi Bilang: Saya Sering Dihina, Tapi Tak Pernah Ngadu

Berbeda dengan libur Lebaran lalu. Pemerintah melakukan penyekatan pemudik dengan ketat. Memang ada kebocoran, tapi paling hanya sekitar 60 ribu dari 6 juta pemudik di Jawa Barat. Itu artinya hanya 1 persen dari total penduduk Jabar yang mencapai 50 juta.

Sebelum Lebaran, tingkat keterisian rumah sakit di Jabar mencapai rekor terendah yaitu 20 persen. Seminggu setelah Lebaran naik menjadi 30 persen. Saat ini menjadi 58 persen. Lumayan kritis karena standar WHO tingkat keterisian 60 persen.

“Jadi ada penambahan kasus tapi tidak setajam tahun baru. Saya punya pengalaman. Punya feeling tidak akan ada ledakan,” kata Emil, yakin.
 Selanjutnya