Dark/Light Mode

Tahun Ini, Desa Organik Binaan Ditjenbun Ditargetkan Raih Sertifikasi Organik

Jumat, 11 Juni 2021 16:14 WIB
Direktur Perlindungan Perkebunan Ditjenbun Ardi Praptono. (Foto: Ist)
Direktur Perlindungan Perkebunan Ditjenbun Ardi Praptono. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan) menyatakan tidak akan menambah kelompok tani baru untuk membentuk desa organik. Mereka fokus mengembangkan desa organik yang ada untuk meningkatkan mutu serta standarnya.

Direktur Perlindungan Perkebunan Ditjenbun Ardi Praptono memastikan, di tahun ini desa organik yang sudah dibentuk Ditjenbun diarahkan untuk memperoleh sertifikat organik.

"Tahun ini kita fokus pada kelompok tani yang sudah kita bina, tidak lagi menambah kelompok tani baru," terang Ardi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/6).

Dengan sertifikasi organik maka produk-produk desa organik ini maka hasilnya akan diakui oleh masyarakat internasional. Selain itu juga akan memudahkan ekspor. Sertifikasi organik juga akan meningkatkan kelas kelompok tani ini, sekaligus menunjukkan bahwa pertanian organik sudah dilaksanakan.

"Pasar produk organik setiap tahun semakin bertambah dan keuntungannya harga premium," imbuhnya. Sertifikasi organik dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi organik yang sudah terakreditasi.

Baca Juga : Moeldoko Pelopori Ivermectin, Bupati Kudus Sebarkan ke RS dan Puskesmas

Bantuan Ditjenbun adalah pembiayaan proses sertifikasinya. Ardi yakin kelompok tani yang dibantu ini lolos sertifikasi organik. Sebab, dengan bimbingan Ditjenbun dan dinas perkebunan setempat mereka sudah menerapkan pertanian organik dengan benar.

Visi perkebunan adalah perkebunan yang berkelanjutan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan memelihara lingkungan termasuk memberikan input yang tidak merusak lingkungan.

Produk perkebunan yang dikonsumsi dalam bentuk segar seperti kopi, teh, pala, lada, mete, permintaan organik cukup tinggi. Kebijakan pengendalian ramah lingkungan diawasi dengan menggunakan agen pengendali hayati.

Saat ini, bukan hanya di perkebunan, tetapi di pertanian, yang secara umum mengembangkan produk yang relatif tidak tercemar bahan kimia. Pada perkebunan, hal ini dilakukan dengan menggalakkan produk-produk organik di 150 desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan.

Hal ini merupakan upaya membangun perkebunan berwawasan lingkungan, termasuk memenuhi permintaan pasar terhadap produk perkebunan yang berkualitas, sehat untuk dikonsumsi.

Baca Juga : Ke Kebumen, Menpora Motivasi Atlet Dan Tinjau GOR Panjer

Setiap desa pertanian organik diberi input berupa ternak, rumah kompos, alat pencacah dan pembuat kompos. Tujuanya agar input perkebunan terutama pupuk bersifat ramah lingkungan.

Hewan ternak ini kotorannya digunakan untuk pupuk sedang urine bisa jadi pestisida alami. Untuk mengendalikan penyakit maka petani diajari membuat pestisida nabati dari daun-daun tanaman disekitarnya juga agen pengendali hayati.

Secara terpisah, Peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balitbangtan Prof Agus Wahyudi menyatakan berkebun organik biayanya lebih tinggi dari konvensional, tetapi manfaatnya juga lebih banyak.

Karena itu dalam penjualannya lebih baik bermerek bukan curah, dengan kemasan sehingga ada jaminan, nilai tambah dan tanggung jawab produsen di kemasan itu. Harga bisa ditentukan oleh produsen.

Menjual dalam bentuk komoditas sangat mudah. Setelah panen, keringkan setelah memenuhi syarat lempar ke pasar dalam bentuk curah sebagai produk organik tanpa identitas. Harga ditentukan oleh pembeli. Produsen tidak berbuat apa-apa.

Baca Juga : Arsjad Rasjid Ingin Kepengurusan Kadin Representasikan Indonesia

"Saya masih melihat produk bersertifikat organik diekspor dalam bentuk curah. Di negara tujuan ekspor baru dikemas, diberi identitas sehingga nilai tambah ada pada pembeli," katanya.

Pada konsumen rumah tangga, pasar produk organik adalah niche market yang bersedia membayar nilai tambah berupa produk yang sehat dan ramah lingkungan. Tidak setiap orang mampu menghargai ini dan bersedia membayar.

Karena itu pasarnya adalah ibu-ibu berpendidikan tinggi dan keluarga mapan karena harganya 50-200 persen lebih tinggi. Pasar harus diperhatikan supaya produk organik di Indonesia semakin berkembang.

Negara-negara yang produk organiknya berkembang dengan pesat adalah India, Meksiko, Ethiopia dan Pilipina. Mereka mengincar pasar yang tumbuh 15 persen per tahun. "Maka Indonesia juga harus ikut lewat gerakan pertanian organik," tandasnya. [JAR]