Dewan Pers

Dark/Light Mode

Keterisian Hampir 80 Persen, RSDC Wisma Atlet Lampaui Standar WHO

Kamis, 15 Juli 2021 22:35 WIB
Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran Jakarta dipadati pasien Covid.
Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran Jakarta dipadati pasien Covid.

RM.id  Rakyat Merdeka - Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran kini sudah melampaui standarisasi WHO. Tingkat keterisian pasien Covid-19 sudah mencapai 80 persen.  

Koordinator Humas RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Kolonel Kes dr Mintoro Sumego kembali meminta warga tidak mengabaikan protokol kesehatan (prokes) selama beraktivitas dan mengikuti kegiatan vaksinasi demi mengurangi beban di Rumah Sakit.

Pasalnya, tingkat keterisian RSDC Wisma Atlet Kemayoran per hari ini hampir mencapai 80 persen, sementara tingkat keterisian normal sebagaimana direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 60 persen.

“Sampai pagi ini ada di 6.254 pasien. Kira-kira tingkat keterisian RS hampir 80 persen. WHO membatasi bahwa seharusnya tingkat hunian sekitar 60 persen agar kami bisa prepare ,” kata dr Mintoro saat diskusi secara virtual, di Jakarta, Kamis (15/7).

Berita Terkait : Mayora Kirim Bubur Untuk Nakes Dan Pasien RSD Wisma Atlet

Kondisi itu menunjukkan tingkat keterisian di RSDC Wisma Atlet Kemayoran telah melampaui kapasitas. Namun, pihak RSDC tetap akan berusaha memberi pelayanan kesehatan yang terbaik untuk pasien, kata dr Mintoro.

Walaupun demikian, ia mengingatkan banyaknya fasilitas kesehatan, termasuk RS-RS darurat yang disiapkan oleh pemerintah, tidak akan cukup menampung pasien positif selama masyarakat abai terhadap protokol kesehatan dan menolak vaksinasi, katanya pula.

“Kami ini di hilir, jadi kami ingatkan seberapa banyaknya fasilitas kesehatan, sarana isolasi yang disiapkan pemerintah, tidak akan cukup kalau masyarakat abai terhadap protokol kesehatan. Tidak akan tertampung semuanya. Jadi untuk masyarakat, tetap kita taat protokol kesehatan dan vaksinasi,” kata dr Mintoro.

Protokol kesehatan itu antara lain mencakup memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan.

Berita Terkait : Ngebut, Tes Corona Di DKI Hampir 19 Kali Lipat Standar WHO

Terkait upaya mengurangi beban RS, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Brigjen TNI (Purn) dr Alexander K Ginting juga meminta masyarakat jujur terhadap hasil tesnya dan terbuka kepada lingkungan, yaitu keluarga, RT/RW, dan posko-posko kesehatan di tingkat desa/kelurahan.

Keterbukaan itu penting, karena pasien positif, khususnya yang menjalani isolasi mandiri di rumah, akan terus terpantau kondisinya, sehingga jika ada pemburukan mereka langsung dapat cepat dibawa ke RS dan mendapat perawatan.

Menurut dr Alexander, situasinya saat ini banyak pasien positif tidak mengetahui secara pasti kondisi kesehatannya dan tidak berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. 

Akibatnya, banyak dari mereka yang akhirnya telanjur buruk kondisinya, dan ujungnya antrean menumpuk di Instalasi Gawat Darurat RS-RS.  

Berita Terkait : Duh Gusti, Pasien Rawat Inap Di Wisma Atlet Tambah 69 Orang

“Jika kondisi sudah memburuk dan telat tertangani, itu justru membuat kerja nakes di RS jadi lebih berat. Yang penting kalau kita positif, jangan tertutup. Kalau isolasi mandiri di rumah jalankan panduan isolasi mandiri berkoordinasi dengan RT/RW,” kata dia

Ia juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya di wilayah Jabodetabek, memanfaatkan layanan telemedicine dari Kementerian Kesehatan, sehingga mereka dapat perawatan dari jauh serta obat-obatan.

Dia pun kembali menegaskan jika mereka yang menjalani isolasi mandiri mengalami demam berkepanjangan, saturasi oksigen turun, agar segera ke RS sehingga dapat cepat menerima perawatan.

dr Alexander juga meminta warga tidak sembarang meminum obat dan mencontek resep dari media sosial, karena akibatnya bisa fatal. [MFA]