Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kalau Sukses, Mau Direplikasi
Sukseskan PTM, Pemerintah Gencarkan Strategi Surveilans
Senin, 27 September 2021 19:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Untuk mendukung kelancaran pembelajaran tatap muka (PTM), pemerintah akan menerapkan strategi surveilans (3T: testing, tracing, dan treatment).
Kalau berhasil, metode ini akan direplikasi ke aktivitas perdagangan, pariwisata, keagamaan, transportasi dan sebagainya.

Baca juga : Tok, Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama 2022
Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) dalam keterangan virtual terkait Hasil Ratas PPKM, Senin (27/9).
“Ini akan kita mulai secara masif. Kita sadar bahwa pembelajaran tatap muka harus segera dilakukan. Karena banyak long term disbenefit, kalau terus kita tunda. Itu sebabnya, pemerintah fokus sekali melakukan surveilans dalam aktivitas tatap muka ini,” papar BGS.
Baca juga : Periksa Anies, KPK Dalami Usulan PMD Ke Perumda Sarana Jaya
“Jadi, kalau kemarin beredar hoaks bahwa banyak klaster dalam pembelajaran tatap muka, sebenarnya tidak demikian,” imbuhnya.
BGS menjelaskan, sesudah tatap muka dijalankan, pemerintah memang melakukan sampling. Yang agak besar, di Jakarta dan Semarang. Ada 22 sekolah di Jakarta yang melakukan sampling antigen dalam periode testing 1-21 September, dengan 2.113 subjek. Hasilnya, 66 positif dan 2.047 negatif, dengan positivity rate 3,12 persen.
Kemudian, pada periode 31 Agustus – 20 September, pemerintah melakukan sampling PCR di 24 sekolah dengan 2.134 subjek. Hasilnya, 107 positif dan 2.017 negatif, dengan positivity rate 5,01 persen. Sementara di Kota Semarang, dalam periode 15-25 September, dilakukan sampling antigen di 258 sekolah dengan 3.698 subjek. Hasilnya, 9 positif dan 3.689 negatif, dengan positivity rate 0,24 persen.
Baca juga : Mahfud MD: Pemerintah Utamakan Restorative Justice
“Di Jakarta, sampling diambil di daerah-daerah yang masuk wilayah merah atau kuning. Daerah yang jumlah kasusnya tinggi, memang dicek terus oleh teman-teman Dinkes. Kita lihat, dari 22 sekolah, ada 8 yang nihil kasus Covid. Yang lain, misalnya ada. Karena angkanya kecil-kecil, itu bukan klaster. Disebut klaster, kalau penyebarannya terjadi di sekolah,” papar BGS.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya