Dark/Light Mode

Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (7)

Debut Diplomat Di Wina, Dari Jari Terjepit Hingga Bersinar Di UNIDO

Selasa, 16 Juli 2024 20:32 WIB
Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan Tudiono. Dok Pribadi
Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan Tudiono. Dok Pribadi

 Sebelumnya 
 

Bagian 16

Penempatan sebagai Diplomat di KBRI Den Haag

Tudi ditempatkan di Belanda, negara yang dikenal sebagai negeri kincir angin, pada tahun 2004-2010. Dia ditugaskan di bagian ekonomi.

Masyarakat Belanda sangat hangat dan ramah kepada orang Indonesia. Mungkin ini karena faktor hubungan sejarah yang panjang dengan Indonesia atau budaya mereka yang terbuka. Paling tidak, ini yang dialami dan dirasakan Tudi. Mereka ramah bahkan kepada anak-anak kecil.

Cukup berbeda dengan saat di Wina. Saat itu, Bravy, anak kedua Tudi, masih berumur satu atau dua tahun. Bravy mau jatuh karena masih latihan jalan, tangannya memegang mobil belakang orang. Pengemudi mobil itu, seorang cewek masih muda, mungkin berumur 30-an tahun, berteriak, "Hei, don't touch my car!" dengan nada tinggi. "Sorry, but he is just a very young kid of one year old," jawab Tudi membela anaknya. Orang itu masih saja ngoceh. Ampun memang.

Di waktu yang lain, Tudi bersama anaknya Nicky, yang waktu itu berumur sekitar 5 tahun, berjalan di taman. Ada orang setempat berjalan dengan membawa anjing yang sangat besar dan hitam. Mungkin seukuran kambing besar atau anak sapi.

Anjing itu nampak liar dan galak, mulutnya dibrongkos. Sesekali pemilik anjing terseret anjingnya yang sudah dirantai. Anjing itu ingin bergerak liar menyerang. Nicky yang takut diajak Tudi menjauh. Tapi pemilik anjing itu nampaknya merasa tersinggung dan hendak melepas rantai anjingnya... sadis bener.

Itu pengalaman pribadi, yang mungkin kebetulan ketemu orang "aneh" pada waktu yang nggak pas. Jadi tidak bisa digeneralisir. Banyak juga orang Austria yang baik bahkan sangat baik.

Dari sisi keindahan alam, memang jauh berbeda dengan Wina, Austria. Wina sangat indah, banyak gunung dan danau. Gedung-gedung bangunan tua yang artistik sangat terawat dan mempesona. Sementara Belanda, lanskapnya datar kecuali di ujung Belanda - Maastrich ada gunung kecil.

Austria juga terkenal dengan musik-musik orkestra. Mozart, di antaranya, berasal dari Salzburg, Austria.

Di Belanda, masyarakat dan diaspora Indonesia sangat besar. Di sini juga banyak rumah makan Asia termasuk rumah makan Indonesia seperti Restoran Puncak dan Garuda. Bumbu-bumbu dan bahan makanan banyak tersedia. Orang-orang Indonesia yang tinggal di sejumlah negara di Eropa tidak jarang berbelanja ke Den Haag.

Baca juga : Menggapai Asa Di Tengah Prahara

Hari itu, seluruh staf KBRI menyambut kedatangan Dubes RI baru, Pak J.E. Habibie, di aula KBRI Den Haag.

"Selamat pagi, Saudara-saudara sekalian," demikian Pak J.E. Habibie, yang baru tiba dan disambut dengan acara seremonial, mengawali sambutannya. "Sekarang saya Duta Besar di sini. Siapa yang bisa bekerja sama dengan saya, kantor ini akan menjadi surga. Dan siapa yang tidak bisa bekerjasama, saya akan pelintir lehernya dan tendang dia. Dan kantor akan menjadi neraka bagi dia."

Sambutan pertama Pak Dubes J.E. Habibie cukup membuat beberapa orang gemetaran. Pak Dubes J.E. Habibie nampaknya menerapkan manajemen stick and carrot yang banyak diterapkan dalam manajemen modern sekarang.

Sebagai diplomat, memfasilitasi atau menemani tamu atau delegasi adalah salah satu bagian dari tugas. Waktu itu, Tudi menemani tamu seorang ahli agama. Dia ingin melihat-lihat red light district dengan alasan yang agak lucu, yaitu untuk melihat langsung daerah itu sekadar untuk bahan ceramah... Padahal daerah itu sarangnya mbahnya setan... Setan kok didekati... ha ha ha...

Jika ditolak? hemmmm.... "Anda bertugas di sini sudah berapa lama, apa tahunya hanya kantor-rumah?"... Sulit deh diajak ke jalan yang benar, batin Tudi... he he he.

Diplomasi Pantun Pak Dubes J.E. Habibie

Satu hal yang jarang dimiliki oleh diplomat kebanyakan adalah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa pantun. Suasana yang seharusnya kaku dan formal menjadi cair dan akrab.

Bagaimana membangun komunikasi dengan bahasa sastra seperti pujangga zaman dahulu tentu merupakan seni tersendiri. Seni komunikasi ini memerlukan modal kepribadian yang kuat, ketulusan mengenai persahabatan dan persaudaraan, dan tentu penguasaan mengenai sastra itu sendiri.

Bahasa diplomasi santun Pak J.E. Habibie sangatlah indah dan bermakna. Diplomasi pantun yang diungkapkan dengan prinsip, keyakinan, dan ketulusan ternyata ampuh dan berhasil meluluhkan kekerasan hati salah seorang tokoh OPM yaitu

Nicolas Jouwe adalah salah satu pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sudah tinggal di Belanda selama 40 tahun. Dia tidak mau ke Indonesia ataupun menemui pejabat Indonesia.

Waktu itu, tahun 2009, Dubes J.E. Habibie mengadakan pertemuan dengan Nicolas Jouwe di KBRI Den Haag.

Baca juga : Lika-Liku Merantau, Kuliah, Dan Teror Polisi Khusus Susu

Nicolas Jouwe menegaskan sikap dan posisinya.

"Saya orang Papua berjuang sampai sekarang untuk kemerdekaan Papua."

Perkataan itu dibalas dengan indah penuh kekeluargaan namun kuat dalam prinsip mengenai NKRI.

"Saya nasionalis NKRI. Saya mau Papua bukan jadi tetangga saya, tapi keluarga saya."

Nicolas menyampaikan posisinya yang berseberangan dengan Dubes J.E. Habibie:

"Angin timur gelombang barat, kapal angkasa warna merpati. Bapak di timur beta di barat, apakah rasanya di dalam hati."

Dubes Habibie berusaha merangkul dia, dengan mengatakan: "Laju-laju perahu laju, laju-laju ke Surabaya. Biar lupa kain dan baju, orang tua jangan lupa pada saya."

Nicolas selanjutnya membalas pantun, "Naik-naik ke batu gajah, rasa haus makan kwini. Beta rasa sengaja saja, siapa tahu kok jadi begini."

"Potong di kuku rasa di daging. Ale rasa beta rasa. Ketemu tua bersaudara satu sama lain," ucap Nicolas.

J.E. Habibie pun membalas, "Riang-riang ke Bangka hulu, ramah-ramah si batang padi. Diam-diam sabar dahulu, lama-lama toh akan jadi."

Nicolas akhirnya hatinya lunak dan mengatakan, "Ayam putih mari kurantai, kasih makan ampas kelapa. Budi Bapak Dubes sudah sampai, beta mau balas dengan apa."

Baca juga : Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat

Hubungan dan kerjasama bilateral Indonesia-Belanda terus menguat. Belanda memasukkan Indonesia dalam prioritas kebijakan pembangunan. Saat itu kebijakan pembangunan Belanda diarahkan ke negara-negara berkembang, khususnya negara-negara Afrika. Kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi pun meningkat.

Rencana Kunjungan Presiden Ke Belanda Batal

Untuk lebih memperkokoh hubungan dan kerjasama, Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono diundang oleh Ratu Belanda dan Perdana Menteri Belanda untuk kunjungan kenegaraan.

KBRI berkoordinasi intensif dengan Kemlu Belanda dan juga dengan Kemlu Pusat dan Setneg baik mengenai agenda, isu-isu yang akan dibahas, akomodasi, pengaturan kendaraan, dan keprotokolan. Tim Aju pun telah berkunjung ke Den Haag.

Namun, dalam perkembangannya terdapat elemen dalam masyarakat Belanda yang dalam hal ini warga Belanda dan RMS yang akan menuntut dan mempidanakan Presiden RI atas kasus pelanggaran HAM.

Pemerintah RI menekankan agar ada jaminan Pemerintah Belanda bahwa Presiden RI tidak akan dituntut dan dipidanakan. Namun Pemerintah Belanda berpandangan sistem pemerintahan Belanda menganut sistem peradilan yang bebas dan pemerintah tidak dapat mencampuri hal ini.

Karena posisi pemerintah Belanda di atas, Presiden RI pada saat akhir menjelang keberangkatan di Bandara Halim Perdana Kusuma, mengurungkan kunjungan kenegaraan ini.

Memang tidak bisa dibayangkan jika Presiden melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda atas undangan Ratu dan Perdana Menteri lantas ditangkap dan diadili, sementara pemerintah yang mengundang tidak berdaya karena sistem hukumnya.

Di samping itu, bagaimana penerapan kekebalan diplomatik berdasarkan Konvensi Wina yang harusnya melekat ke Kepala Negara, apakah itu tidak diartikan sebagai pengesampingan Konvensi Wina.

Pemerintah Belanda seharusnya mendorong penghormatan Hukum Internasional dan menyampaikan sebagai subjek hukum internasional dan dalam tataran pergaulan internasional dirinya terikat dengan aturan-aturan internasional termasuk Konvensi Wina 1961.

Oleh Tudiono, Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Cape Town, Afrika Selatan. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.