Dewan Pers

Dark/Light Mode

Gara-gara Omicron

Afrika Minta Jangan Dihukum

Sabtu, 4 Desember 2021 07:20 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Afsel, Salman Al Farisi, saat Focus Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka yang bertemakan “Omicron dan Nasib WNI di Afrika Selatan”, Jumat (3/12/2021). (Foto: YouTube RakyatMerdeka TV)
Duta Besar Indonesia untuk Afsel, Salman Al Farisi, saat Focus Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka yang bertemakan “Omicron dan Nasib WNI di Afrika Selatan”, Jumat (3/12/2021). (Foto: YouTube RakyatMerdeka TV)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi Afrika Selatan (Afsel) morat-marit akibat pandemi Covid-19. Angka kemiskinan membengkak, pengangguran melonjak. Makanya, mereka meminta tidak dihukum dunia dengan dikucilkan gara-gara muncul varian Omicron.

Permintaan jangan dihukum ini diungkap Duta Besar Indonesia untuk Afsel, Salman Al Farisi, dalam Focus Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka yang bertemakan “Omicron dan Nasib WNI di Afrika Selatan”, tadi malam. Dalam FGD yang dipandu Direktur Rakyat Merdeka Kiki Iswara itu, Salman mengungkapkan dampak positif dan negatif akibat Omicron. Mulai dari gelora vaksinasi, pengambilan kebijakan, kondisi ekonomi, hingga permohonan Presiden Afsel Cyril Ramaphosa agar dunia melonggarkan pembatasan keluar masuk warna negaranya.

Berita Terkait : Cegah Omicron, Wapres Minta Pintu Masuk Ke Indonesia Diperketat

Sejauh ini, ada 25 negara menutup teritorialnya untuk warga negara Afsel. Juga, melarang warganya bepergian ke negara paling berkembang di Benua Afrika itu. "Virus yang tingkat penyebarannya cepat ini menjadikan kewaspadaan yang luar biasa," kata Salman.

Salman mengakui, munculnya Omicron memang telah membuat jumlah kasus Covid-19 melonjak tajam. Di Afsel, sebelum Omnicron muncul, kasus Corona sudah melandai. Tapi, setelah Omicron terdeteksi, langsung melonjak. "Sebelumnya, kasus positif di Afsel hanya ratusan per hari. Sekarang sudah belasan ribu," ujarnya.

Berita Terkait : AS Deteksi Kasus Transmisi Lokal Omicron Di Minnesota, Orangnya Diduga Tertular Di New York

Meski melonjak, Afsel tetap berusaha tenang. Saat ini, Afsel masih memberlakukan status level 1. Tidak pembatasan apalagi lockdown. Warga di sana tetap bisa kerja. Sekolah tatap muka juga tetap digelar.

Alasannya, ekonomi di Afsel sedang terpuruk. Kondisi tersebut bahkan sudah terjadi sejak sebelum pandemi. Saat ini, tingkat kemiskinan di Afsel sudah mencapai 37 persen. Sedangkan pengangguran mencapai 60 persen.

Berita Terkait : Rahmad Handoyo: Omicron Ancaman Besar, Petugas Karantina Jangan Main-main

“Sebagian besar masyarakat Afrika Selatan bekerja harian. Sehingga mereka mau tidak mau harus keluar, supaya dapat uang hari itu. Sebab, bantuan dari pemerintah kecil sekali. Hanya sekitar Rp 350 ribu,” bebernya.

Makanya, Afsel sangat menyesalkan sikap dunia yang mengucilkan mereka. Pada 28 November lalu, Presiden Ramaphosa sempat bersuara kencang. Intinya memohon kepada dunia agar tidak mengunci pintu penerbangan untuk warga negaranya. Begitu pun sebaliknya. Karena langkah tersebut bukan solusi bijak antar-negara dalam memerangi Covid-19 ataupun turunannya.
 Selanjutnya