Dark/Light Mode

Dubes AS Untuk RI, Sung Yong Kim

Tak Hanya Jadi Kegagalan Strategis Kremlin, Invasi Ke Ukraina Hancurkan Masa Depan Rusia

Jumat, 4 Maret 2022 18:01 WIB
Dubes AS Untuk RI, Sung Yong Kim Tak Hanya Jadi Kegagalan Strategis Kremlin, Invasi Ke Ukraina Hancurkan Masa Depan Rusia

 Sebelumnya 
Selain "hukuman" ekonomi, Presiden Biden mengesahkan tambahan bantuan keamanan senilai 350 juta dolar AS, untuk segera membantu Ukraina mempertahankan diri. Sehingga, total bantuan keamanan Amerika ke Ukraina selama setahun terakhir menjadi lebih dari satu miliar dolar AS.

AS juga telah berkoordinasi dengan negara-negara utama penghasil dan konsumen minyak dunia, untuk menekankan kepentingan bersama kita dalam mengamankan pasokan energi global.

Untuk itu, AS menjalin kerja sama dengan perusahaan energi dalam meningkatkan kapasitas mereka. Memasok energi ke pasar. Terutama, sebagai akibat dari kenaikan harga.

Baca juga : Dubes RI Untuk Italia Serahkan Surat Kepercayaan Ke Presiden Sergio Mattarella

"Serangan ini telah direncanakan oleh Vladimir Putin sejak lama. Secara metodis, Putin telah memindahkan lebih dari 150 ribu tentara serta peralatan militer ke perbatasan Ukraina. Dia juga memindahkan pasokan-pasokan darah ke posisinya serta membangun rumah sakit di lapangan, yang menunjukkan niatnya selama ini," papar Dubes Kim.

"Dia menolak setiap upaya itikad baik dari AS serta sekutu dan mitra kami, untuk mengatasi masalah keamanan yang dibuat-buat. Serta untuk menghindari konflik yang tidak perlu dan penderitaan manusia, dengan terlibat dalam diplomasi dan dialog," sambungnya.

Putin disebut mengeksekusi strategi permainnya, persis seperti apa yang pernah AS peringatkan tentang apa yang akan dia lakukan.

Baca juga : Dubes AS Sung Yong Kim Dukung Jokowi Wujudkan Making Indonesia 4.0

"Kita melihat kaki tangan Rusia meningkatkan aksi bombardir mereka di Donbas. Kita melihat panggung politik yang dipentaskan Moskow, dan mendengar klaim aneh dan tidak berdasar yang dibuat tentang Ukraina dalam upaya untuk membenarkan agresi Rusia," tutur Dubes Kim.

Menurutnya, Rusia terus menjustifikasi agresi militernya secara tidak benar, dengan mengklaim kebutuhan untuk menghentikan "genosida" di Ukraina. Meski tak ada bukti bahwa genosida terjadi di sana.

Dubes Kim bilang, Rusia telah menggunakan taktik seperti ini, sebelum mereka menginvasi Ukraina pada 2014 dan Georgia pada 2008.

Baca juga : Darurat Nasional, Kazakhstan Jamin Keamanan Investasi Asing Dan Negara Sahabat

Kemudian, pada saat yang hampir bersamaan, ketika Dewan Keamanan PBB bertemu untuk membela kedaulatan Ukraina dan mencegah terjadinya bencana, Putin melancarkan invasinya dan melanggar hukum internasional.

Rudal mulai menghujani kota-kota bersejarah di Ukraina. Kemudian datang serangan udara, deretan tank, dan batalyon pasukan. Semuanya "menunggangi" gelombang disinformasi dan kebohongan yang dibangkitkan kembali.

"Kami selalu transparan terhadap dunia. Kami mendeklasifikasi informasi intelijen kami, sehubungan rencana Rusia. Agar tidak ada kebingungan maupun yang ditutup-tutupi. Putih adalah agresornya. Putin memilih perang ini. Dan kini, rakyatnya akan menanggung konsekuensi keputusannya untuk berinvestasi di dalam perang. Alih-alih berinvestasi untuk mereka," ungkap Dubes Kim.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.