Dark/Light Mode

JENESYS2022 For Young Journalists (Tamat)

Warga Jepang Curhat Soal Resesi Seks

Kamis, 2 Maret 2023 06:11 WIB
Paul Yoanda berfoto bersama Keluarga Matsuzawa. (Foto Paul Yoanda/RM)
Paul Yoanda berfoto bersama Keluarga Matsuzawa. (Foto Paul Yoanda/RM)

 Sebelumnya 
Di ruangan itu, kami melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari membuat makanan khas takoyaki dan okonomiyaki, hingga ngobrol-ngobrol soal kehidupan di Jepang. Mulai dari budaya, hingga persoalan “berat” di Negeri Sakura, seperti resesi seks.

Soal ini, Mika punya keresahan tersendiri. Menurutnya, itu bisa terjadi karena tingginya biaya hidup di negaranya. Makanya, orang-orang memilih untuk tidak menikah. Meski menikah, mereka memilih untuk tidak memiliki anak.

Tapi, kata Mika, pilihan itu sebenarnya tidak umum di desa tempatnya tinggal. Rata-rata keluarga di desanya, kata dia, memiliki lebih dari satu anak.

Baca juga : Wisata Ramah Muslim Ala Si Kuda Putih

“Kalau seperti saya, yang hanya punya satu anak sebenarnya juga jarang,” jelas Mika, dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih.

Di rumah itu, Matsuzawa dan Mika tinggal bersama satu anak yang bernama Yuto (16), dan orangtua Matsuzawa, Masako (90). Nilai-nilai tradisional keluarga juga masih dipegang teguh. Seperti, makan bersama. Hari itu, Nenek Masako ikut bergabung bersama untuk makan okonomiyaki yang dimasak di meja.

“Sehari-hari, kami memang selalu makan bersama. Kecuali Yuto, karena dia tidak sekolah di SMA di Desa Hakuba,” ujar Mika.

Baca juga : 40 Persen Warga Nagano Di Atas 40 Tahun, Koran Lokal Laris

Tak terasa, waktu berlalu empat jam kami isi dengan mengobrol, home tour, menikmati camilan, memasak hingga makan bersama Keluarga Matsuzawa. Para peserta harus kembali ke tempat berkumpul sekitar pukul 4 sore.

Tapi, dalam perjalanan, Matsuzawa menyempatkan diri untuk membawa rombongan untuk sekadar berkeliling desa. Mulai dari SMP di desa itu yang hanya ada dua, hingga venue olahraga saat gelaran Olimpiade 1998 di Nagano.  “Saya dulu jadi sukarelawan saat Olimpiade,” jelasnya.

Sebelum berpisah, Matsuzawa dan Mika mengingatkan untuk saling berhubungan satu sama lain. Rombongan pun saling bertukar akun media sosial.

Baca juga : Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo Jadi Tempat Wisata Gratis

Kegiatan terakhir Program JENESYS2022, Senin (20/2), diisi dengan pemaparan peserta yang terbagi menjadi lima grup setelah sebelumnya para peserta kembali ke Tokyo.

Masing-masing grup menyampaikan berbagai temuan dan pengalaman selama sekitar satu pekan mengikuti program. Sekretaris Jenderal Japan International Cooperation Center (JICE), Kawagoe Hiroshi mengungkapkan, sebagai penyelenggara, pihaknya mengapresiasi berbagai pengalaman para peserta selama program berlangsung. Dari berbagai paparan tersebut, pihaknya bisa memahami pengalaman peserta yang dinilai komprehensif dan tidak akan terlupakan. ■ 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.