Dark/Light Mode

Meski Demo Tolak Pensiun Berujung Rusuh

Prancis Masih Terkendali, Belum Mengarah Revolusi

Jumat, 31 Maret 2023 04:39 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto Michel Euler/Associated Press)
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto Michel Euler/Associated Press)

 Sebelumnya 
UU Pensiun, lanjut Macron, ditargetkan berlaku paling lama pada akhir 2023. Dengan demikian, umur pensiun pekerja menjadi 64 tahun dari yang sebelumnya 62 tahun. Selain itu, tunjangan pensiun yang penuh dari negara hanya diberikan kepada pekerja yang telah bekerja selama 43 tahun.

Berdasarkan data Pemerintah Prancis yang dikutip France 24, per tahun 2030, Perancis memiliki 20 juta penduduk pensiunan. Jika umur pensiunan tidak dinaikkan, pada 2070, setiap pensiunan disokong oleh 1,2 orang pekerja yang membayar pajak. Bandingkan dengan tahun 2020, yang rasionya, setiap pensiunan disokong 1,7 orang pekerja pembayar pajak.

Baca juga : Mentan: Kenaikan Harga Beras Masih Terkendali

Pemerintah Prancis menghitung, dalam 10 tahun ada defisit anggaran hingga 150 miliar euro. Hal ini karena jumlah penduduk usia produktif menurun dan otomatis penerimaan pajak juga merosot. Sementara penduduk lansia pensiunan terus bertambah dan mereka ditalangi oleh negara.

Menurut Pemerintah, jalan keluarnya, dengan memperlama masa kerja. Namun Direktur Peneliti Sciences Po Paris Bruno Palier menjelaskan kepada surat kabar The Washington Post, membenahi persoalan ketenagakerjaan tidak bisa hanya dengan memperpanjang masa kerja.

Baca juga : Bulog Klaim Terus Serap Beras Petani

Budaya kerja di Prancis juga jauh dari ideal. Memang, di atas kertas, Prancis memiliki jam kerja paling singkat dibandingkan negara-negara lain di Eropa, yaitu 35 jam per pekan. Usia pensiunnya juga lebih rendah dibandingkan Inggris (68 tahun), Jerman (67 tahun), dan Spanyol (65 tahun dan 10 bulan).

”Budaya kerja di Prancis sarat dengan feodalisme yang membuat pekerja tidak bisa berkembang secara karier ataupun kreativitas, tetapi terus diperas keringatnya sehingga mereka akhirnya tertekan,” ujar Palier.

Baca juga : Mas Menteri: Merdeka Belajar Cetak Inovasi

Selain itu, ada pula penelitian Guru Besar Psikologi Universitas Katolik Leuven Belgia, Wilmar Schaufeli. Pada 2018, Schaufeli menerbitkan hasil kajiannya yang berjudul ”Burnout in Europe: Relations with National Economy, Governance, and Culture”.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.