Dark/Light Mode

Selat Bosphorus, Wabah, dan Udara Segar: Sebuah Kenangan Dan Wisata Kesehatan

Rabu, 3 Mei 2023 12:00 WIB
Selat Bosphorus, Wabah, dan Udara Segar: Sebuah Kenangan Dan Wisata Kesehatan. (Foto: Istimewa)
Selat Bosphorus, Wabah, dan Udara Segar: Sebuah Kenangan Dan Wisata Kesehatan. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Selat Bosphorus di Turki, yang memisahkan kota Istanbul bagian Eropa dan Asia, bukan hanya menjadi objek pariwisata yang menawan. Selat ini juga memiliki "jejak kesehatan yang panjang", baik dalam hal wabah maupun udara segarnya.

Pada "Istanbul Security Forum" yang dibuka pada 2 Mei 2023, Prof Tjandra Yoga Aditama, berkesempatan menjadi pembicara dan kembali ke Selat Bosphorus ini. 

Dalam kesempatan itu, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut mengingatkan peristiwa kesehatan yang terjadi di sepanjang selat ini.

Baca juga : Airlangga: Posisi Boleh Beda, Tapi Satu Tujuan Untuk Kemajuan Dan Kesejahteraan

Dia bilang, sejak 1840-an, selama wabah penyakit cacar di Istanbul, vaksinasi cacar digalakkan secara luas. Para dokter ketika itu memvaksinasi penduduk di Selat Bosphorus dengan menggunakan kapal, dari desa ke desa. 

Kemudian, ketika wabah kolera melanda di tahun 1912-an, berbagai hotel, rumah yang menghadap ke selat, dan sekolah di sepanjang selat Bosphorus diubah fungsinya menjadi rumah sakit. 

Di Hagia Sophia, yang kini menjadi obyek turisme terkenal, lebih dari 500 orang meninggal setiap harinya karena kolera.

Baca juga : Pilpres Jadi Pertandingan Persahabatan

"Wabah penyakit sejak dulu sampai sekarang memang punya dampak amat besar, karena itu marilah kita jaga kesehatan dan melakukan PPR (pencegahan / prevention, persiapan / preparedness dan respon) dalam hal wabah di waktu mendatang," kata Prof Tjandra.

Namun, Selat Bosphorus tidak hanya terkenal karena wabah penyakitnya. Udara segar yang ada di sepanjang selat ini sejak lama dipercaya memiliki dampak baik bagi kesehatan. 

Pada abad ke-9, sebut Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini, Kaisar Theophilos membangun rumah sakit di tepi selat agar pasien dapat menikmati udara segar dan keindahan yang berpengaruh bagi penyembuhan penyakitnya.

Baca juga : Syarief Hasan Ingatkan Pentingnya Keamanan Dan Kesehatan Pemudik

Kemudian, pada akhir abad ke-19/awal abad ke-20, dampak klimatologi pada kesehatan semakin banyak dikenal, dan disebut klimatoterapi. Di Turki, klimatoterapi diberikan dalam bentuk "tebdil-i hava (climate alteration)" dan juga "tebdil-i iklim-i tıbbi (medical climate alteration)". 

Tiga jenis penyakit yang banyak diobati di sepanjang Selat Bosphorus adalah emfisema paru, tuberkulosis paru, dan diabetes.

"Kita juga banyak punya pantai dan selat yang indah, yang seyogyanya juga dikelola sebagai bagian dari wisata kesehatan, tentu dengan perkembangan ilmu mutakhir sekarang ini," ujar Prof Tjandra.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.