Dark/Light Mode

Rawan Bocor, Pasukan AL AS Dilarang Pakai TikTok

Selasa, 24 Desember 2019 14:26 WIB
TikTok/Ilustrasi (Foto: Getty Images)
TikTok/Ilustrasi (Foto: Getty Images)

RM.id  Rakyat Merdeka - Para prajurit angkatan laut (AL) Amerika Serikat (AS) dilarang menggunakan platform media sosial berbasis video buatan China, TikTok. Larangan yang resmi diaplikasikan mulai Senin (23/12). Larangan didasari kekhawatiran kebocoran data dan rahasia negara ke Negeri Tirai Bambu.        

Meski belum ada laporan resmi yang menunjukkan TikTok menyerahkan data pengguna kepada pemerintah pusat di Beijing, Paman Sam tetap melarang pemakaian TikTok oleh seluruh politisi dan pejabat pemerintahannya. Pemerintah AS mencurigai Beijing mengumpulkan data berupa pesan, video dan data IP address pengguna TikTok untuk mendata dan melokalisasi setiap pemakai.        

Baca juga : Mantan Relawan Go Prabu Doakan Adian Cepat Sembuh

Aplikasi yang dimiliki ByteDance ini mengaku tidak melakukan 'panen data' dari miliaran penggunanya. Namun pemerintah AS menyebut, jika Beijing memerintahkan ByteDance menyerahkan semua data pengguna, perusahaan tersebut tidak bisa menolak.        

Dikutip The Next Web, semua personel AL AS atau US Navy dilarang mengunduh aplikasi TikTok. Mereka yang tidak mematuhi kebijakan ini, maka diblokir dari jaringan internet dan komunikasi khusus anggota Angkatan Laut atau Korps Marinir.        

Baca juga : Gandeng OJK dan LPS, BI Integrasikan Pelaporan Perbankan

Pihak angkatan bersenjata Amerika Serikat menyatakan bahwa selama ini memang sudah ada program yang memuat kebijakan mengenai aplikasi apa saja yang dilarang digunakan di kalangannya. Namun, informasi tersebut enggan bercerita aplikasi saja yang masuk daftar hitam.        

Saat ini, pihak TikTok belum mau memberikan pernyatan sebagai respon atas kabar ini. Beberapa waktu lalu CEO TikTok, Alex Zhu, angkat bicara saat aplikasi perusahaannya masuk dalam pengawasan pemerintah Amerika Serikat.        

Baca juga : Menhub Larang Pemudik Nataru Naik Sepeda Motor

Zhu berkomitmen akan membuktikan aplikasi media sosial TikTok akan melindungi data penggunanya termasuk dari sentuhan pemerintah China. "Saya akan menolaknya, secara personal," jawab Zhu saat ditanya mengenai keputusan yang diambil apabila suatu hari nanti pemerintahan China meminta memblokir video atau data penggunanya.        

Zhu menegaskan, pusat data aplikasi ini tidak berada di China melainkan di Singapura dan Virginia untuk server Amerika Serikat.  "Data aplikasi TikTok hanya bisa digunakan oleh pengguna TikTok," ucap Zhu. Dia mengaku optimistis bahwa penjelasan dari perusahaannya bisa meyakinkan pemerintah Amerika Serikat. [DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.