Dark/Light Mode

Upaya Perdamaian Kembali Ke Titik Nol

Trump-Putin Teleponan, Ukraina & Eropa Terpukul

Jumat, 23 Mei 2025 04:05 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Amerika Serikat  Donald Trump. (Foto BBC)
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto BBC)

 Sebelumnya 
Ukraina dan Eropa merasa dikhianati dan semakin khawatir. Mereka berpendapat, posisi Trump tidak bisa diprediksi. Sedangkan Putin, dianggap mengulur waktu dan memanfaatkan diplomasi untuk mendapatkan keuntungan militer. Rusia menambah tentara di perbatasan dan pelan-pelan menguasai medan perang.

“Putin jelas mengulur waktu. Sayangnya, kita harus mengatakan Putin tidak benar-benar tertarik pada perdamaian,” kata Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius.

Baca juga : RI-Turki Target Kerja Sama Rp 167 Triliun

Di era Presiden Joe Biden, AS merupakan pendukung terbesar Ukraina, baik secara militer maupun intelijen. Kiev mengandalkan bantuan dari sekutunya tersebut sebelumnya. Namun, dengan perubahan sikap Trump dan ketidakpastian kelanjutan bantuan dari AS, Ukraina kini berada dalam posisi sulit.

Putin Tak Berniat Damai

Pengamat hubungan internasional yang juga pendiri Parley Policy Initiative Michael MacArthur Bosack mengatakan, Putin menunjukkan ketidakseriusan dalam negosiasi. Hal ini dia ungkap lewat sebuah artikel yang berjudul What to make of the restart in Russia-Ukraine ceasefire negotiations yang dirilis Channel News Asia (CNA), Kamis (22/5/2025).

Baca juga : PBB Dukung Rencana Pertemuan Trump-Putin Untuk Akhiri Perang Ukraina

Menurut Bosack, dalam negosiasi damai pada 17 Mei 2025 di Istanbul, Turki, Moskow terus mengulang tuntutannya yang sangat ambisius. Delegasi Rusia meminta Ukraina tidak masuk aliansi militer North Atlantic Treaty Organization (NATO), mengakui Crimea dan wilayah lainnya yang dikuasai Rusia, serta memaksakan penggunaan bahasa Rusia di Ukraina.

Dalam pertemuan itu, delegasi Ukraina dipimpin Menteri Pertahanan Rustem Umerov dan delegasi Rusia dipimpin Penasihat Kremlin Vladimir Medinski.

Baca juga : Zelensky Percaya, Di Tangan Trump, Perang Rusia-Ukraina Segera Berakhir

Meski kedua pihak masih berbeda pandangan dalam banyak isu, mereka berhasil mencapai beberapa kesepakatan. Yang paling menonjol adalah kesepakatan pertukaran 1.000 tahanan perang masing-masing dari pihak Ukraina dan Rusia.

“Kesepakatan pertukaran tahanan menandai kemajuan, tetapi masih ada kesenjangan besar dalam isu inti konflik,” kata Bosack yang juga Penasihat Khusus Urusan Hubungan Pemerintah di organisasi Yokosuka Council on Asia-Pacific Studies yang bermarkas di Yokosuka, Prefektur Kanagawa, Jepang.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.