Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perundingan Lanjutan Maju-Mundur
AS Agresif, Iran Pasif
Jumat, 24 April 2026 07:40 WIB
Sebelumnya
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Namun, di saat yang sama, kebijakan blokade pelabuhan Iran tetap dilanjutkan oleh militer AS.
Penasihat Ketua Parlemen Iran Mahdi Mohammadi merespons langkah tersebut dengan skeptis. Ia menilai perpanjangan gencatan senjata sepihak tidak memiliki arti bagi Iran. “Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa bagi Iran,” kata Mohammadi.
Ia bahkan menilai langkah tersebut sebagai taktik untuk mengulur waktu sebelum melanjutkan serangan. “Taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak,” ujarnya.
Baca juga : Gelombang I Petugas Haji Tiba Di Makkah, Siap Sambut Jemaah Haji
Ketegangan juga meningkat di level militer. Komando operasional tertinggi Iran melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan akan memberikan respons keras jika terjadi agresi baru.
“Pasukan kami telah siaga penuh dan siap menyerang target yang telah ditentukan dengan kekuatan penuh jika ada agresi lanjutan,” ujar juru bicara markas tersebut, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz juga masih tidak menentu. Iran memberlakukan pembatasan pelayaran, sementara militer AS tetap menjalankan blokade. Bahkan, Iran dilaporkan menembaki kapal-kapal untuk mencegah pelayaran, sementara AS melarang kapal menuju kawasan tersebut.
Baca juga : Adi Prayitno: Parpol Berusaha Jaga Kekompakan Internal
Terbaru, militer AS dilaporkan mencegat tiga kapal tanker minyak berbendera Iran di perairan Asia. Kapal-kapal tersebut dialihkan dari posisi di dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, seperti dilaporkan Reuters dan Al Arabiya, Kamis (23/4/2026).
Iran pun menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz selama pelabuhannya masih diblokade AS. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata.
“Gencatan senjata memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut,” tulis Ghalibaf di media sosial X.
Baca juga : Agus Supriyanto: Usulan KPK Kurang Tepat Dan Tidak Pas
Di front lain, konflik juga masih berlangsung di Lebanon. Serangan Israel dilaporkan terus berlanjut meski dalam situasi gencatan senjata.
Selama sekitar 45 hari konflik, tercatat 2.400 orang tewas dan lebih dari 62 ribu rumah terdampak. “Kami mencatat 21.700 unit rumah hancur dan 40.500 unit rumah rusak,” kata Kepala Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah (CNRS), Chadi Abdallah, dilansir Al Jazeera, Rabu (22/4/2026).
Menteri Lingkungan Hidup Lebanon Tamara Zein menambahkan, serangan tidak hanya menyasar permukiman, tetapi juga infrastruktur sipil, tempat ibadah, hingga kawasan pertanian dan hutan. Selain itu, lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi sejak konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas pada awal Maret 2026. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya