Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Kebetulan setiap tahun Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan acara pemeran dagang terbesar Trade expo Indonesia di bulan Oktober.
Saya sempat bertemu dengan ayah Lubarto, Sartoyo, pada saat perkenalan saya dengan masyarakat di KBRI awal April 2016. Dengan memakai kursi roda, dia mendekati saya dan memperkenalkan diri berasal dari daerah Banyumas.
Baca juga : Gigi Hadid, Perdana Pamer Baby Bump
Saya pun akhirnya berbicara dengan Bahasa Jawa ala Banyumasan (ngapak). Dia menyambutnya dengan semangat, karena jarang sekali ketemu orang Jawa yang bisa ngomong ngapak.
“Hampir lupa ngapak saya, untung Pak Dubes dari Kebumen, kita jadi sering-sering ngomong ngapak”, kata Sartoyo bersemangat.
Baca juga : Santunan Rp 300 Juta Per Orang Disalurkan Kepada Nakes
Di pecinya ada pin bendera Indonesia dan Rusia serta lambang garuda. Sartoyo mengakui sebagai Sukarnois. Ia meninggal tahun 2017 karena penyakit komplikasi yang dideritanya.
Sebenarnya banyak generasi kedua dan ketiga dari keluarga eks Mahid, namun selama ini tidak pernah datang atau berkumpul dengan orang Indonesia. Maklum mereka sudah menjadi warga negara Rusia dan tidak dapat lagi berbahasa Indonesia. Mungkin juga orang tuanya tidak pernah cerita tentang Indonesia mengingat hal itu bisa menjadi trauma tersendiri buat mereka.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya