Dark/Light Mode

Jelang Pemilu, Hamas dan Fatah Mau Rujuk

Selasa, 29 September 2020 08:54 WIB
Pemimpin Fatah Mahmoud Abbas (kiri) dan pentolan Hamas Ismail Haniyeh
Pemimpin Fatah Mahmoud Abbas (kiri) dan pentolan Hamas Ismail Haniyeh

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjelang pemilu enam bulan mendatang, dua faksi besar di Palestina berupaya untuk rujuk. Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam) atau yang dikenal dengan Hamas mau duduk bersama Fatah di Kairo, Mesir, pada 27 September 2020, membahas rekonsiliasi.

"Pembicaraan fokus pada rekonsiliasi, pertemuan selanjutnya 3 Oktober," kata kata juru bicara Fatah, Hussein Hamayel, dilansir Aljazeera

Hamayel mengatakan, delegasinya dipimpin Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Fatah Jibril Rajoub dan anggota komite pusat Rohi Fattouh. Mereka bakal mempersiapkan perhelatan pemilu legislatif dan presiden Palestina.

Hamayel menyinggung peran Mesir dalam isu Palestina. Kairo diketahui kerap menjadi mediator dalam proses penyelesaian friksi internal Palestina.

Baca juga : KPK Dukung Penyelamatan Aset PLN di Maluku

"Mesir memiliki peran penting dalam masalah Palestina, dan itu telah mengapresiasi upaya Palestina menuju rekonsiliasi sejak awal," katanya.

Menurut dia, Mesir pun sangat menyambut pertemuan delegasi Fatah dan Hamas di Istanbul, Turki, belum lama ini. “Sejak awal, saudara-saudara Mesir menyambut baik pertemuan antara Hamas dan Fatah di Istanbul dan hasil yang mereka hasilkan," ucapnya.

Hamas dan Fatah telah sepakat untuk menyelenggarakan pemilu enam bulan mendatang. Palestina menggelar pemilu terakhir 15 tahun lalu.

Kesepakatan kedua faksi tentang pelaksanaan pemilu di Palestina disampaikan Jibril Rajub, pejabat senior Fatah, Kamis (24/9/2020). Pembicaraan intensif antara Pemimpin Fatah Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh telah berlangsung selama beberapa hari di Istanbul, Turki.

Baca juga : Piala Liga Inggris : Liverpool, Man City dan Villa Masih Mulus

Saleh al-Arouri, pejabat senior Hamas, membenarkan adanya kesepakatan itu sebagai upaya besar untuk menyatukan kembali kekuatan di Palestina.

”Kali ini kami mencapai konsensus yang nyata. Perpecahan telah merusak tujuan nasional dan kami sedang bekerja untuk mengakhirinya,” kata Arouri.

Pemilihan parlemen terakhir di Palestina terjadi pada 2006. Hamas yang menguasai Jalur Gaza menang telak pada pemilihan itu. Pascapemilihan, pertikaian antara kedua faksi politik itu tak pernah berhenti dan menyulitkan perjuangan mencapai Palestina merdeka.

"Kami telah sepakat untuk terlebih dahulu mengadakan pemilihan legislatif, kemudian pemilihan presiden Otoritas Palestina, dan akhirnya dewan pusat Organisasi Pembebasan Palestina," kata Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Fatah Jibril Rajoub di Istanbul, Turki.

Baca juga : Jangan Ciut Sama Kapal China, Natuna Milik Kita

Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh menyambut kesepakatan yang telah dicapai Hamas dan Fatah. Ia mengatakan, pemerintahannya siap menyediakan semua persyaratan guna menyukseskan pemilu.

Shtayyeh menilai pemilu adalah pintu gerbang untuk memperbarui kehidupan demokrasi, dan memperkuat persatuan nasional dalam menghadapi bahaya serius yang mengancam perjuangan Palestina.

Perselisihan antara Hamas dan Fatah telah berlangsung sejak 2006, tepatnya ketika Hamas memenangkan pemilu parlemen. Fatah menolak dan memboikot hasil tersebut. Hamas kemudian mendepak Fatah dari Jalur Gaza. Sejak saat itu, kedua faksi tersebut memimpin dua wilayah yang berbeda. Hamas mengontrol Gaza dan Fatah memimpin Tepi Barat. Beberapa upaya rekonsiliasi untuk memulihkan hubungan antara kedua faksi telah dilakukan. Namun, usaha tersebut belum sukses. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.