Dark/Light Mode

Buka Pintu Transisi Ke Biden, Tetap Gugat Pemilu

Belum Ngaku Kalah, Trump Muka Tembok

Rabu, 25 Nopember 2020 07:02 WIB
Donald Trump menjelang keluar dari Gedung Putih. (Foto NYT)
Donald Trump menjelang keluar dari Gedung Putih. (Foto NYT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah lebih dua pekan, pemerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kemarin memberi jalan agar Presiden terpilih Joe Biden melakukan transisi pemerintahan. Di saat yang sama, Trump tetap memperjuangkan hasil pemilu. Trump benar-benar muka tembok.

Biden dari Demokrat memenangkan 306 suara elektoral atau lebih dari 270 suara yang dibutuhkan untuk lolos sebagai orang nomor satu di AS. Sedangkan Trump, yang berasal dari Partai republik, mendapatkan 232 suara.

Dengan sikap Trump yang membolehkan Biden mengambil alih pemerintahan, maka tim bentukan Biden sekarang bisa mendapatkan pendanaan federal dan sebuah kantor untuk menjalankan pemerintahan transisi hingga Biden secara resmi dilantik pada 20 Januari 2020.

Proses transisi kepemimpinan dimulai Senin (23/11) waktu setempat. Meski belum mengakui kekalahannya dalam pemilihan presiden (Pilpres), Trump mengatakan akan membantu usaha transisi pemindahan kekuasaan. Pihak berwenang berharap, tran sisi akan membantu AS mengatasi pandemi Covid-19.

Dalam unggahannya di Twitter, Trump mengatakan, dia sudah memerintahkan timnya untuk bekerja sama dengan tim Biden dalam proses transisi. Meski dia juga mengatakan, akan tetap memperjuangkan gugatan hukum.

Berita Terkait : Trump Beri Lampu Hijau Untuk Transisi Kepemimpinan Biden

Keputusan mengenai proses transisi ini diumumkan lembaga General Services Administration (GSA) lewat Pejabat Administrasinya, Emily Murphy. GSA adalah badan pemerintah yang ditugaskan untuk memulai proses transisi, lembaga yang menangani masalah masalah pembelian barang bagi pemerintah dan mendistribusi kan penggunaannya.

Dalam pernyataannya di Twitter, Presiden Trump mengatakan, dia setuju dengan keputusan GSA, walau mengatakan dia masih berkeyakinan akan memenangkan Pemilu.

“Kasus kami masih berlanjut. Kami akan mempertahankan pertarungan yang baik. Saya yakin kami akan menang! Namun demi kepentingan terbaik negara kita, saya merekomendasikan agar Emily dan timnya melakukan apa yang perlu dilakukan terkait ke protokol awal, dan telah memberi tahu tim saya untuk melakukan hal yang sama,” cuit Trump.

Keputusan GSA diambil setelah beberapa negara bagian mengesahkan kemenangan Biden dan gugatan hukum dari kubu Trump ditolak pengadilan. Hari Senin, negara bagian Michigan menyatakan Biden menang di sana. Sementara pada Sabtu (21/11), hakim di tingkat federal di Pennsylvania juga menolak gugatan Trump.

Keputusan GSA ini disambut baik Yohanes Abraham, Direktur Eksekutif Tim Transisi Biden. “Keputusan ini diperlukan untuk mulai menangani tantangan yang dihadapi negeri kita, termasuk menguasai pandemi, dan membuat ekonomi kita kembali ke jalur yang benar,” katanya.

Berita Terkait : Trump Tunda Transisi, Biden Khawatir Banyak Orang Bakal Mati

Dengan keputusan GSA, tim transisi Biden akan mendapatkan dana awal sebesar Rp 80 miliar dari pemerintah federal guna membantu usaha transisi. Juga akan ada dana Rp 10 miliar untuk mereka yang sudah diangkat Biden untuk mulai melakukan persiapan bagi tugas mereka.

Tim Biden juga akan mendapatkan akses ke sebuah kantor untuk mulai melakukan pekerjaan mereka. Biden dan wakilnya Kamala Harris akan mendapatkan keterangan mengenai keamanan nasional seperti yang diterima Trump saat.

Biden sudah mencalonkan Antony Blinken untuk menjadi Menteri Luar Negeri, dan mantan Menlu John Kerry diangkat menjadi Utusan Khusus untuk Perubahan Iklim, Alejandro Mayorkas sebagai Menteri Dalam Negeri yang dalam istilah di Amerika Serikat disebut sebagai Menteri Keamanan Dalam negeri.

Biden juga mengusulkan Linda Thomas Greenfield sebagai Duta Besar AS untuk PBB, Jake Sullivan sebagai Penasihat Keamanan Nasional dan Avril Haines sebagai Direktur Intelijen nasional.

Pilihan Biden tampaknya mencerminkan apa yang dijanjikannya selama pemilu, bahwa kabinetnya akan mencerminkan warga yang terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Berita Terkait : Tanpa Selamat Melania, Jill Biden Susun Agenda Ibu Negara

Linda Thomas Greenfield adalah perempuan keturunan Afrika, sementara Alejandro Mayor kas adalah kelahiran Kuba dan akan menjadi warga keturunan latin pertama yang menjadi Menteri Keamanan Dalam negeri.

Tim transisi Biden menyatakan, para pejabat akan segera bekerja untuk membangun kem bali institusi AS, memperbarui kepemimpinan  untuk membuat warga AS tetap aman di dalam dan di luar negeri.

“Juga mengatasi masalah-masalah sekarang, mulai dari penyakit menu lar, terorisme, pengembangan senjata nuklir, ancaman siber dan perubah an iklim,” ujarnya.[MEL]