Dark/Light Mode

Kutuk Israel, Solidaritas Muslim Asia Tenggara Galang Dana Untuk Palestina

Rabu, 12 Mei 2021 07:00 WIB
Warga menyebut asma Allah sambil membawa jenazah Amira Soboh dan remaja pria penyandang disabilitas usia 19 tahun, putra Abdelrahman, yang tewas dalam serangan Israel ke apartemen mereka di Jalur Gaza. Mereka akan dimakamkan di Shati, Gaza City, Tuesday, 11 Mei 2021. (Associated Press/Adel Hana)
Warga menyebut asma Allah sambil membawa jenazah Amira Soboh dan remaja pria penyandang disabilitas usia 19 tahun, putra Abdelrahman, yang tewas dalam serangan Israel ke apartemen mereka di Jalur Gaza. Mereka akan dimakamkan di Shati, Gaza City, Tuesday, 11 Mei 2021. (Associated Press/Adel Hana)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat Muslim di Asia Tenggara mengutuk aksi kekerasan dan pengusiran paksa yang dilakukan pasukan Israel terhadap warga Palestina, serta bentrokan di Masjid al Aqsa.

Dari Malaysia, Majelis Musyawarah Ormas Islam Malaysia (MAPIM) melakukan penggalangan dana bagi para pejuang Masjid al Aqsa untuk kebutuhan pangan, obat-obatan, dan keamanan. “Dari Kuala Lumpur ke Istanbul, dari Senegal ke Kairo Muslim harus bangkit untuk mempertahankan Masjid al-Aqsa,” ujar MAPIM dalam pernyataannya.

Mereka menargetkan pengumpulan donasi sebesar 25 ribu dolar AS (sekitar Rp 355 juta)dalam empat pekan untuk segera dikirim ke Masjid al Aqsa.

Sementara itu, Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) juga mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap jamaah tidak bersenjata dari agama apapun dan segala penodaan terhadap tempat ibadah.

MUIS sangat prihatin dan sedih dengan kekerasan yang terjadi terhadap para jemaah di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. “Kami berdoa rahmat dan keselamatan Allah bagi mereka yang tidak bersalah dan berharap adanya ketenangan dan de-eskalasi situasi yang cepat,” kata MUIS dalam keterangannya.

Dua ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah meminta Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional mengambil langkah nyata atas kekerasan yang dilakukan tentara Israel.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengecam peristiwa yang terjadi saat umat muslim Palestina sedang menunaikan puasa dan ibadah di bulan Ramadan itu.

Berita Terkait : Serangan Udara Israel Tewaskan 20 Warga Gaza

“PBB dan semua negara di dunia internasional harusnya bertindak tegas terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan Israel, serta tidak boleh melindunginya,” ujar Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir dikutip Kantor Berita Anadolu, Selasa (11/5/2021).

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mendesak PBB melakukan langkah cepat dan upaya strategis agar Palestina kembali damai, berdaulat sebagai sebuah negara yang diakui seluruh bangsa di dunia.

“PBNU mengutuk penyerangan polisi Israel terhadap warga Palestina yang sedang beribadah. Terlebih, peristiwa itu terjadi pada Ramadan, bulan yang suci bagi umat Islam,” kata Helmy dalam pernyataannya.

Selain itu, NGO Aqsa Working Group (AWG) melakukan aksi solidaritas di 30 titik di Indonesia pada Senin petang, pasca-serangan Israel terhadap jemaah di Masjid al-Aqsa, Yerusalem.

Ketua Presidium AWG M Anshorullah mengungkapkan, aksi tersebut digelar sekaligus berbagi takjil gratis di lokasi yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera, hingga Ternate. Di Jakarta, aksi solidaritas Masjid al-Aqsa digelar di Tugu Tani.

Pemicu Konflik Pecah

Suasana di Palestina kian memanas. Korban berjatukan di Jalur Gaz. Pemicunya adalah serangan Israel terhadap warga sipil Palestina di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, beberapa hari belakangan.

Berita Terkait : Polisi Israel Bentrok Lagi Dengan Warga Palestina

Seperti dilaporkan Reuters, ledakan mengguncang banyak gedung di seluruh Gaza pada Selasa (11/5/2021) dan Senin (10/5/21). Akibat serangan ini, 26 warga Palestina tewas, lebih dari 109 terluka dalam serangan udara.

Konflik itu berawal saat para warga Palestina memprotes rencana Israel untuk menggusur mereka dari kawasan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur dalam rangka perluasan permukiman Yahudi.

Aksi protes berlanjut usai shalat Jumat pada 7 Mei lalu di Masjid Al-Aqsa, sebuah situs yang paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Ini merupakan Jumat terakhir di bulan suci Ramadan tahun ini.

Setelah shalat, banyak yang memilih tidak langsung pulang untuk ikut aksi protes menentang pengusiran warga Palestina di wilayah yang diklaim pemukim Yahudi.

Setelah berbuka puasa, pecah bentrokan di Al-Aqsa dan di dekat Sheikh Jarrah, yang terletak tak jauh dari Gerbang Damaskus yang terkenal di kawasan Kota Tua Yerusalem.

Polisi Israel menggunakan meriam air dari kendaraan lapis baja untuk membubarkan ratusan pemrotes yang berkumpul di dekat rumah-rumah keluarga yang terancam diusir. Para pemrotes juga berasal dari kawasan lain.

"Bila tidak mendukung kelompok warga di sini, (pengusiran) akan terjadi di rumah saya, rumah dia, rumah mereka, dan semua warga Palestina yang tinggal di sini," kata pemrotes bernama Bashar Mahmoud, pemuda 23 tahun yang tinggal di kawasan Issawiya di wilayah Palestina.

Berita Terkait : Israel, Iblis Nyata Di Dunia

Pengurus masjid Al-Aqsa berupaya menenangkan situasi lewat pengeras suara. Namun, bentrokan berdarah tak terelakkan. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan lebih dari 300 warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan polisi Israel.

Bentrokan usai, suasana masih mencekam, Hamas, kelompok Islam yang menguasai Gaza, menetapkan tenggat waktu malam bagi Israel untuk mengeluarkan polisi dari Al-Aqsa dan Sheikh Jarrah pada 10 Mei 2021. Ketika batas waktu kedaluwarsa, suara tembakan roket tak terelakkan.

Israel memandang seluruh wilayah Yerusalem sebagai ibu kotanya, termasuk bagian timur yang dianeksasi setelah perang 1967. Meski begitu, tindakannya ini belum mendapatkan pengakuan internasional. Sementara itu Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara.

Ada Apa Dengan Sheikh Jarrah

Sengketa tanah di Sheikh Jarrah menjadi pemicu bentrokan antara Israel dan Palestina. Padahal menurut Mahkamah Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa, kawasan Sheikh Jarrah tetap menjadi bagian dari Palestina dan mendesak Israel untuk membatalkan pengusiran warga Palestina dari wilayah tersebut.

Israel tetap kukuh ingin mengklaim Sheikh Jarrah, sebab menurut mereka, di lokasi terdapat makam Imam Besar Yahudi. Atas apa yang dilakukannya, PBB bahkan mengatakan bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang. [MEL]