Dark/Light Mode

Perpusnas 3 Negara Bahas Langkah Hadapi Pandemi, Solusinya Digitalisasi

Selasa, 7 September 2021 16:16 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tiga Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dari Australia, Indonesia, dan Jepang melakukan pertemuan membahas upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi pandemi Covid-19, dalam diskusi virtual, Selasa (7/9). Diskusi tiga Kepala Perpusnas itu digelar sehari sebelum pelaksanaan Konferensi Kepala Perpusnas Dunia (Conference of Directors of National Libraries/CDNL). 

Dalam diskusi prakonferensi ini, dibahas upaya yang dilakukan Perpusnas di tiap negara selama pandemi, tantangan yang dihadapi, kekuatan, dan perjuangan menghadapi pandemi. Kepala Perpusnas RI Muhammad Syarif Bando menyatakan, Indonesia memberikan layanan kepada publik di tengah pandemi Covid-19 melalui perpustakaan digital.

Baca juga : Miris, Presiden Zambia Diburu Utang

“Di era pandemi ini, strategi yang kita hadapi, sama dengan Jepang, untuk memperbanyak akses ke pelayanan digital. Perpustakaan Nasional saat ini sudah memiliki Indonesia OneSearch (IOS), Khastara, dan iPusnas,” ungkap Syarif Bando.

Selain itu, sebagai respons terhadap pandemi Covid-19, Perpusnas membuat Coronapedia yang dapat diakses melalui aplikasi perpustakaan digital, iPusnas. Di dalam Coronapedia, masyarakat bisa menemukan informasi tentang Covid-19 yang diharapkan bisa menambah pengetahuan masyarakat.

Baca juga : Perkuat Ultimate Service, Solusi Perbankan Transformasi Digital

“Perpusnas bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk penyediaan informasi tentang Covid-19 di Coronapedia. Indonesia adalah negara yang dikenal dengan tanaman herbal yang paling lengkap di dunia sehingga beruntung rasanya, bisa memberikan informasi tentang tanaman herbal yang mungkin bisa menambah imun masyarakat,” jelasnya.

Kepala Perpusnas Australia Marie Louise Ayres menyatakan, situasi pada awal pandemi sebagai tantangan terberat karena ketidakjelasan kebijakan. Saat itu, kebijakan pemerintah federal dan pemerintah daerah berbeda.

Baca juga : Rektor UAI Apresiasi Semangat Belajar Mahasiswa ditengah Pandemi

Perpusnas Australia berada di bawah pemerintah federal yang mengizinkan perpustakaan tetap buka. Sementara, pemerintah daerah meminta perpustakaan ditutup. Untungnya, kebingungan tersebut hanya berlangsung tahun lalu, karena sekarang kebijakannya sudah jelas.

Marie Louise mengungkapkan, selama masa pandemi, layanan perpustakaan tetap berjalan melalui layanan digital. Perpusnas Australia telah menjadi perpustakaan digital besar dan menjangkau 30 juta orang melalui layanan daring setiap tahunnya. “Apa yang paling berharga bagi kami adalah, kami sudah menjadi perpustakaan digital yang sangat besar,” ungkapnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.