Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dubes Prancis Olivier Chambard Puji Ketegasan RI Soal Pakta Keamanan Aussie, Inggris Dan AS
Rabu, 29 September 2021 07:52 WIB
Sebelumnya
Salah satu butir kesepakatan dalam aliansi AUKUS yakni, AS dan Inggris akan membantu Australia dalam pengadaan delapan kapal selam bertenaga nuklir.
Dalam kerangka AUKUS pula, AS akan meningkatkan kekuatan kapal perang, pesawat tempur, peluru kendali, dan tentaranya di Australia.
AUKUS juga akan bekerja sama di bidang keamanan internet, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, dan pengawasan bawah laut. AUKUS ditujukan pula untuk meningkatkan kerja sama dan rantai pasok industri pertahanan di antara anggotanya.
Karena itu, Chambard menambahkan, pembelian kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia diyakini tidak akan memberikan perdamaian dan rasa damai di kawasan. Dalam pandangan Pemerintah Prancis, AUKUS menihilkan peran dan sentralitas ASEAN.
Baca juga : Jelang PON XX Papua, Kementan Pantau Keamanan Pangan Hewan
Chambard mengungkapkan, pemerintah Prancis memahami bahwa Pemerintah Australia berhak memilih teknologi yang digunakannya untuk meningkatkan postur keamanannya. Namun pada saat yang sama, sebagai mitra strategis dan sekutu yang sudah memiliki hubungan lama, Australia seharusnya bisa bersikap lebih bijak.
Sebagai informasi, akibat kesepakatan AUKUS, Australia membatalkan pembelian 12 kapal selam diesel dari Prancis. Paris pun menuding Washington dan Canberra berkhianat.
Prancis lalu menarik Dubesnya di Washington DC dan Canberra. Paris juga membatalkan pertemuan tingkat menteri dengan AS dan Australia. Selain itu, Prancis juga mengindikasikan akan menghambat perundingan dagang Uni Eropa-Australia.
Belakangan, setelah pembicaraan via telepon antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden Emmanuel Macron, Rabu (22/9) malam, kemarahan Paris terhadap Washington mereda.
Baca juga : Jokowi Tegaskan Komitmen RI Dalam Ketahanan Kesehatan Global
Macron juga telah memerintahkan Dubes Prancis untuk aS, Philippe etienne kembali bertugas di Washington Dc.Namun, kemarahan Paris terhadap canberra masih belum sirna.
Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Rabu (22/9), mengatakan, dirinya telah mencoba mengatur percakapan via telepon dengan Presiden Macron. Tapi sejauh ini, tidak berhasil.
Secara khusus, terkait perbaikan hubungan dengan Australia, Chambard mengaku, saat ini masih belum mengetahui secara detail.
Menurutnya, apa yang dilakukan Australia mengejutkan hingga merusak kepercayaan. “Saya tidak tahu. Mungkin akan memerlukan waktu. Karena ketika kepercayaan rusak, maka hal lain juga akan rusak,” cetusnya.
Baca juga : Jelang Olimpiade, CdM Janji Atasi Soal Kendala Lapangan Atletik
Chambard menjamin, masalah kepercayaan yang melibatkan Australia tidak akan menghasilkan sikap bermusuhan Prancis. Namun, dia menyayangkan kondisi seperti itu akan membatasi kedua negara untuk memiliki kemitraan strategis yang optimal. [PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya