Dark/Light Mode

Ancaman Kenaikan Harga Pupuk

Jumat, 26 November 2021 07:15 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
RRT selama ini diam-diam juga mengekspor pupuknya ke Indonesia, dijual sebagai pupuk non-subsidi. Karena harga di negeri itu lebih murah dari harga gas di negara kita, harga pupuk RRT dengan sendirinya lebih murah juga. China bahkan tempo hari dikabarkan akan membanjiri pupuknya ke Indonesia jika pemerintah kita menghentikan subsidi untuk pupuk dan menjual kebutuhan pupuk petani langsung kepada petani, suatu wacana yang didukung keras oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla waktu itu.

“Daripada repot-repot ngurus pupuk dengan subsidi begitu besar, jual saja pupuk secara langsung kepada petani,” begitu kira-kira argumentasi “Stop subsidi pupuk”. Hingga sekarang pemerintah Jokowi belum berani melaksanakan “wacana liberal” ini, karena kemungkinan dampak mengerikan bagi kaum tani jika betul-betul dilaksanakan.

Baca juga : Andika Perkasa, Pilihan Tepat Presiden

Karena situasi ekonomi yang bergolak akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, dan demi mengamankan kebutuhan pupuk dalam negerinya, China dan Rusia sebagai dua negara pengekspor pupuk tebesar di dunia, sudah mulai memberlakukan larangan ekspor untuk semua jenis pupuk, termasuk pupuk urea, dan NPK. Larangan ekspor pupuk 2 (dua) negara raksasa ini menimbulkan gangguan luar biasa terhadap perdagangan pupuk internasional berakibat kekurangan pasokan. Beberapa negara importir pupuk seperti Korea Selatan, dikabarkan, sudah mengalami kelangkaan pupuk yang cukup parah.

Penumpukan cargo di Amerika dan Eropa Utara akibat kelesuan ekonomi tempo hari berdampak pada keterlambatan pengiriman barang dan komoditi yang massif di seluruh dunia. Ongkos dan biaya transportasi pun meningkat, kabarnya hingga 200% di atas harga normal.

Baca juga : Memalukan, Silat Lidah PDIP & Demokrat

Akumulasi dari berbagai persoalan ini kemudian berdampak terhadap harga komoditas di seluruh dunia, termasuk harga pupuk urea, NPK, KCI dan lain sebagainya. Para ekonom meramalkan harga komoditas ini masih akan terus berlanjut hingga awal tahun 2022. Khusus untuk kenaikan harga pupuk, tampaknya sudah memasuki fenomena anomali. Harga urea saat ini bahkan sudah menyentuh angka USD 1.000 per ton.

Menghadapi situasi ekonomi yang anomali di tingkat internasional, pabrikan pupuk, pemerintah dan DPR harus cepat berdialog untuk memikirkan langkah-langkah yang perlu diambil untuk menyelamatkan sektor pertanian kita, khususnya nasih 22,4 juta petani kita. Intinya, bagaimana sama-sama menjaga/menstabilkan harga pupuk, memberantas fenomena maraknya pabrik-pabrik pupuk ilegal.

Baca juga : Komponen Cadangan, Apa Relevansinya? 

Pada akhirnya, ketahanan pangan nasional harus dijaga dengan segala upaya. Untuk apa kita membeli alutsista super-canggih dengan biaya puluhan triliun rupiah jika pada waktu yang bersamaan ketahanan pertanian kita terancam? (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.