Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dekadensi Moral: Tantangan Serius BPIP

Sabtu, 11 Desember 2021 07:25 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Anggota Komisi Konstitusi MPR 2004

RM.id  Rakyat Merdeka -
Prof. Tjipta Lesmana
Mantan Dosen Pancasila

Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Nahar, mengatakan pelaku pemerkosaan 12 santriwati pesantren di Cibiru, Kota Bandung, pantas diganjar hukuman keras, yakni hukuman kebiri. Hal itu sesuai Pasal 81 ayat 7 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016.

Berita Terkait : Dubes Amerika Sung Yong Kim, Siap Perkuat Kerja Sama Antar Alumni Kampus Paman Sam

Perbuatan keji terhadap anak yang ingin mendapatkan pendidikan terbaiknya layak mendapatkan hukuman sekeras, kata Nahar, Jumat kemarin.

Sekali lagi: 12 santriwati korban perkosaan gurunya, empat di antaranya telah melahirkan delapan anak! Berarti ada santri yang sempat 2 kali hamil dan 2 kali melahirkan. Apa pengurus pesantren tidak memberitahukan orang tuanya ketika ada tanda-tanda hamil ? Waktu melahirkan, apa orang tuanya tidak tahu? Banyak misteri menyelimuti kasus ini.

Berita Terkait : Ancaman Kenaikan Harga Pupuk

Kasus ini sudah disidangkan di pengadilan. Pelaku terancam hukuman maksimal 5 tahun. Menurut Nahar, kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan berasrama sangat sering terjadi.

Kementerian PPPA terus mendorong agar lembaga pendidikan dan pengasuhan, termasuk pesantren, memiliki dan menerapkan standar pengasuhan bagi anak yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Berita Terkait : Andika Perkasa, Pilihan Tepat Presiden

Bagaimana pelaksanaannya, tidak ada yang tahu. Pengawasan tampaknya juga lemah, sehingga kasus demi kasus terus terjadi.
 Selanjutnya