Dark/Light Mode

Margiono, Wartawan Yang Penuh Humor

Rabu, 2 Februari 2022 06:50 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Saya berkenalan dengan Pak Margiono sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah bincang-bincang sebentar, ia minta saya menulis kolom di RM

Berani RM muat tulisan saya? “Kenapa tidak? Saya senang dengan tulisan Mas Tjipta yang seger-seger”.

Sejak itu saya rutin menulis di koran ini. Setahun kemudian, kami bertemu lagi di satu acara diskusi di Solo. Margiono minta saya lebih sering mengisi RM, kalau bisa seminggu sekali lha.

Baca juga : Strategi Xi Jinping Membabat Korupsi

Margiono menepis keras tudingan bahwa RM anti-Jokowi. Pemerintah harus dikritik. Kritik itu tanda cinta kita pada pemerintah. Yang tidak boleh, dan pantangan buat RM adalah menghina Presiden. Kami tidak pernah melakukannya !            

Dalam berbagai acara PWI, Margiono tampil memberikan sambutan. Ia tidak pernah baca teks waktu pidato. Pernyataannya di panggung mengalir begitu saja, dan selalu memancing tawa hadirin.

Kadang saya berpikir di mana beliau “belajar guyon”, begitu hebat dan jenaka tohok-tohokannya, sehingga ilmu komunikasi Margiono mungkin lebih efektif dari Aristoteles yang terkenal dengan teori ELP-nya: Ethos, Logos dan Pathos.

Baca juga : Korupsi Sebagai Produk Industri Hukum

Di acara apa pun, ia selalu mengenakan baju berwarna putih, lengan pendek, tidak pernah dimasukkan dalam celana (mungkin karena bobotnya yang agak besar), santai sekali, dan amat-amat jarang melihat beliau mengenakan dasi atau pakai jas!            

Sebagai sosok yang lama berkecimpung dalam dunia pers, berita bahwa Margiono ikut Pilbup – pemilihan Bupati Tulungagung –mengejutkan saya. Margiono mau jadi Bupati? For what? Porsi beliau sebetulnya Menteri, bukan Bupati, pikir saya.

Pertanyaan ini saya ajukan langsung ketika bertemu 4 mata. Ceritalah beliau: Ibu saya yang minta. “Kata Ibu, saya sudah berhasil meraih segalanya. Hanya satu yang yang belum, memajukan kampung halaman kita.”

Baca juga : Dilema Subsidi Pupuk

Margiono menyatakan terkejut, dan enggan menjawab awalnya. Tapi karena beberapa kali permintaan itu datang dari Bunda yang sangat dicintainya, hatinya luluh juga.        

Dalam berbagai pertemuan pribadi di kantor PWI Pusat, saya kerap mendapat masukan dan wejangan dari Margiono, bagaimana menjadi jurnalis yang baik dan bagaimana menjalankan roda organisasi PWI serta Dewan Pers.

Beliau juga yang mendorong saya agar menerbitkan buku berisikan kumpulan-kumpulan artikel saya di RM maupun media lain. Karena terlalu banyak jumlah artikel itu, maka saya kumpulkan tulisan-tulisan yang dimuat di harian RM. “Semburan Kritik Yang Pedas” begitu judul final buku tersebut setelah berdiskusi dengan beliau, diterbitkan oleh RM Press.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.