Dark/Light Mode

Harmonisasi Kerukunan Umat Beragama [2]

Sabtu, 2 April 2022 06:56 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Konflik yang terjadi di dalam masyarakat kita, seperti kasus Ambon, Poso, Kalimantan, dan Aceh, sesungguhnya sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari sebuah konsep persatuan yang dipaksakan dari atas, bukannya dibangun melalui proses dialogis dengan memperhatikan kondisi obyektif bangsa Indonesia yang bukan saja pluralistik tetapi juga heteregon.

Konsep persatuan dan kesatuan yang diterapkan selama ini penuh dengan rekayasa yang menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan merugikan kelompok-kelompok lain.

Baca juga : Harmonisasi Kerukunan Umat Beragama

Hanya karena kekuatan central power di masa itu maka letupan sosial dengan motif primordial dapat tertunda. Berbeda halnya di era reformasi yang seiring dengan kedewasaan umat beragama, situasi sudah menjadi lain.

Setiap orang berhak dan bebas mengekspresikan pendapatnya masingmasing dalam berbagai bentuk. Apa yang dulu tabu dan sensitif dibicarakan, kini sudah cair.

Baca juga : Antara Pluralitas Dan Heterogenitas (2)

Akronim-akronim menyeramkan itu sudah tidak lagi menakutkan. Setiap orang di manapun dan kapan pun dapat secara bebas mempersoalkan masalah-masalah pluralisme di dalam masyarakat, tanpa harus merasa terancam oleh siapapun.

Media cetak dan elektronik tidak lagi mendapatkan hambatan untuk mengung kapkan seluruh aspirasi masyarakat. Sering terjadi kolaborasi tokoh lintas agama menyuarakan tema kritis yang sama.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.