Dark/Light Mode
Tantangan Global Umat Masa Depan (13)
Deindonesianisasi Pemahaman Agama
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kini muncul adanya fenomena deindonesianisasi pemahaman agama di kalangan milenial. Padahal, keluhuran niat dan kearifan sikap para the founding fathers harus selalu menjadi contoh bagi para generasi baru bangsa ini. Para penganjur agama sejak masa Proto-Indonesia sampai kemerdekaan berhasil diraih, tokoh-tokoh bangsa ini selalu menekankan arti penting persatuan dan kesatuan bangsanya.
Mereka sangat sadar bahwa tanpa persatuan dan kesatuan maka tidak mungkin bangsa ini terwujud seperti sekarang ini. Kehadiran bangsa Indonesia harus disyukuri oleh seluruh umat dan warga bangsa. Tidak mungkin kita bisa melakukan fungsi kita sebagai hamba (‘abid) dan representative Tuhan sebagai pemimpin jagat raya (khalifah) tanpa sebuah wadah formal.
Baca juga : Milenial: Hijrah Dari Religiousness Ke Religious -Mindedness
Di antara contoh yang sangat memprihatinkan, umat beragama sulit menjalankan ibadahnya yang sangat asasi itu karena negara tempat tinggalnya porak-poranda, mereka sulit mempelajari dan mendalami kitab sucinya karena tidak memiliki lembaga pendidikan yang ideal. Mereka tidak bisa bermimpi menunaikan rukun Islam kelima, haji, karena yang mau dimakan saja sulit. Mereka tidak bisa membayar zakat karena dirinya masih termasuk mustahiq, sasaran pemberian zakat. Mereka sulit menyelenggarakan shalat Jum’at karena mungkin tidak punya masjid, imam atau khatib, atau mungkin karena merasa tidak aman keluar rumah.
Di samping itu, ketegangan antar aliran dan antar mazhab menarik untuk dicermati. Ketegangan seperti ini dulu tidak pernah muncul karena terlalu kuat “bungkusan” keindonesiaan yang sulit diterobos. Ketika “bungkusan” keindonesiaan ini menipis, apalagi robek, maka serta-merta kekuatan aliran dan mazhab itu mencuak ke permukaan.
Baca juga : Milenial: ``Agama Adalah Nuklir`` (2)
Identitas keindonesiaan yang menyemangatinya mulai tergerus oleh uforia reformasi. Akibatnya, setiap penganut aliran dan mazhab dalam suatu agama bebas melakukan reidentifikasi diri. Tidak tertutup kemungkinan akan terjadinya Pakistanisasi Ahmadiyah, Iranisasi Syi’ah, Saudi Arabisasi Wahabiah, Yamanisasi Sunny, dan seterusnya. Akibatnya lebih lanjut, benturan antara satu aliran dan mazhab dengan aliran dan mazhab lain sulit dihindari.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.