Dark/Light Mode

Tantangan Global Umat Masa Depan (11)

Milenial: Hijrah Dari Religiousness Ke Religious -Mindedness

Rabu, 8 Juni 2022 06:35 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalangan milenial sangat ingin akrab dengan agamanya, tetapi pada sisi lain tidak ingin kehilangan kemerdekaannya. Mereka menjumpai dua pola keagamaan yang hidup di dalam masyarakat: Pertama, orang yang menyerahkan diri sepenuhnya berada di dalam rangkulan agama. Keseluruhan pandangan hidup dan prilakunya didominasi oleh ajaran formal agama. Seolah-olah ruang, waktu, dan dirinya meru­pakan satu kesatuan kental dengan ajaran agama.

Baca juga : Milenial: ``Agama Adalah Nuklir`` (2)

Sementara nun jauh di sana (transcendent) Ada Tuhan beserta para malaikat mengawasinya dengan ketat. Ruang dan jendela untuk mengintip dunia nyata sangat terbatas karena dikelilingi dan dipenuhi oleh spektrum legalitas ajaran agama. Di sekitarnya seolah dikelilingi daerah terlarang, sehingga dinamika dan kebe­basan berekspresi menjadi kaku karena terlalu banyak rambu-rambu yang berdiri tegak. Kreatifitas dan inisiatifnya sebagai khalifah ditenggelamkan oleh kapasitas dirinya sebagai abid (hamba). Ekspresi keagamaan seperti ini disebut religiousness.

Baca juga : Millenial: ``Agama Adalah Nuklir`` (1)

Kedua, orang yang mengekspresikan rasa keagamaan­nya dengan merasa dia yang merangkul agamanya. Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke manapun ia pergi selalu bersamanya, namun ia tidak merangkul dirinya me­lainkan dirinya yang menggenggam agama itu. Dampaknya, orang akan merasa lebih merdeka dan memiliki hamparan luas dan longgar untuk berekspresi dan berkreasi.

Baca juga : Millenial: ``Agama Sahabat Tetapi Merepotkan``

Rambu-rambu pembatas itu tidak berdiri tegak di luar dirinya, tetapi melekat di dalam dirinya, sehingga pandangannya luas tanpa terpantul oleh papan-papan perboden keagamaan. Hidup dan kehidupannya lebih dinamis karena merasa diberikan ke­bebasan penuh dari ajaran agamanya sendiri. Pada prinsipnya, segala sesuatu boleh selain yang secara khusus dilarang. Jumlah larangan itu amat sedikit. Ia merasa lebih merdeka sebagai khalifah karena sikap perhambaan dirinya kepada Tuhan tidak menghalanginya untuk berkreasi dan berinisiatif. Ekspresi kea­gamaan seperti ini disebut religious-mindedness.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.