Dewan Pers

Dark/Light Mode

Intervensi Wahyu Ratu

Senin, 20 Juni 2022 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Gonjang-ganjing perpolitikan Tanah Air sudah mulai terasa. Partai politik melakukan pemanasan dalam rangka persiapan pemilu mendatang. Setidaknya ada dua strategi untuk mencari pemimpin nasional. Yang pertama adalah dengan sistem perkawinan politik. Antarelite politik melakukan kerja sama untuk mengusung calon yang diinginkan. Strategi kedua adalah konvensi. Yaitu partai politik melakukan tahapan seleksi terhadap beberapa calon pemimpin.

“Wahyu ratu tidak bisa dikejar maupun dihindari, Mo,” celetuk Petruk. “Lahirnya seorang pemimpin selain kewahyon sudah ada tulisan tangan,” papar Petruk, sok tahu.

Romo Semar tidak mau komentar banyak menanggapi anaknya, Petruk. Semar sedang waswas menghadapi ancaman resesi global. Ancaman larang sandang larang pangan sudah di depan mata. Harga-harga kebutuhan pokok sudah mulai naik dan barang kebutuhan mulai langka. Hal ini dikarenakan kenaikan suku bunga The Fed di Amerika dan terganggunya rantai pasokan dunia.

Berita Terkait : Strategi Prabu Kresna

Seperti biasa, pisang rebus dan kopi pahit selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot menghangatkan suasana pagi yang dingin. Romo Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana Dewi Durgandini melakukan intervensi politik di kerajaan Hastina.

Kocap kacarito. Pasca-ditinggal mukswo Dewi Gangga, Prabu Sentanu menjalani hidup sebagai single parents untuk membesarkan anak semata wayangnya Bisma atau Dewabrata. Tidak mudah bagi seorang raja menjalankan roda kerajaan sambil momong anak yang masih kecil. Terlintas di benak Prabu Sentanu untuk kawin lagi dan membesarkan anaknya Bisma.

 

Dewi Durgandini adalah raja putri dari kerajaan Wirata. Sebelumnya Dewi Durgandini pernah kawin secara sembunyi dengan Bambang Parasara. Dari perkawinannya mempunyai seorang anak yang bernama Abiyasa. Kelak Abiyasa menurunkan satria Pandawa dan Kurawa. Abiyasa memilih hidup jauh dari keramain dunia. Abiyasa memilih menjadi brahmana dan hidup di Padepokan Sapta Arga.

Berita Terkait : Balapan Di Padang Kurusetra

Prabu Sentanu tertarik oleh kecantikannya Dewi Durgandini. Maka diutuslah anaknya Bisma untuk melamar Dewi Durgandini di kerajaan Wirata. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Tugas untuk mengawinkan bapaknya merupakan tugas mulia. Apalagi Prabu Sentanu sudah lama hidup seorang diri. Dewabrata kaget begitu mendengar persyaratan yang diajukan Dewi Durgandini. Durgandini bersedia dikawin oleh Prabu Sentanu asal kelak yang menjadi pewaris kerajaan Hastina adalah anak dari perkawinannya. Padahal Prabu Sentanu sudah memiliki anak laki-laki yaitu Bisma sebagai pewaris kerajaan.

Bisma legowo untuk tidak menjadi ratu di Hastina. Asalkan Dewi Durgandini bersedia diboyong ke kerajaan Hastina dan kawin dengan Prabu Sentanu. Bahkan Bisma bersumpah wadat tidak akan kawin selama hidupnya. Sumpah wadat ini untuk meyakinkan Dewi Durgandini atas tahta kerajaan Hastina kelak.

“Sungguh luhur hati Bisma, Mo. Bersedia berkorban untuk kebahagiaan orang lain,” celetuk Petruk. “Betul, Tole. Seorang pemimpin harus berani berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Pemimpin yang bijaksana bukan mencari tahta. Akan tetapi siap berkorban dan mengayomi rakyat yang dipimpinnya,” papar Romo Semar. Di sisi lain, pemimpin yang dipaksakan selain menimbulkan bencana akan membawa kutukan. Seperti kutukan perang Baratayuda akibat intervensi Dewi Durgandini terhadap tatanan politik kerajaan Hastina. [Oye]