Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kresna Ngunduh Mantu

Senin, 1 Agustus 2022 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mengawinkan anaknya. Itulah yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta pekan lalu. Sebagai pamongnya Jakarta, tamu yang hadir pun beragam. Mulai dari Presiden, Wakil Presiden, Ketua Lembaga Tinggi Negara, Ketua Umum Partai, kalangan pebisnis, guru sampai rakyat biasa hadir memberi restu kepada pasangan pengantin. Sebagian kalangan memanfaatkan resepsi pernikahan tersebut sebagai “melting pot” untuk saling menyapa dan bersilaturahmi.

Seperti penggalan tembang Asmarandana, “Gegaraning wong akrami among ati pawitane”. Modal membangun rumah tangga adalah bersatunya dua hati. Dua keluarga Arab berjodoh dan dinikahkan dengan kearifan budaya lokal. Mulai dari budaya Jawa, budaya Melayu, tradisi Arab dan Internasional. Nuansa keberagaman khatulistiwa sangat terasa sekali. Pasangan pengantin mirip pasangan Kamajaya dan Kamaratih saat mengenakan baju penganten Jawa.

“Tapi ada yang kurang, Mo. Pak Anies tidak nanggap wayang. Sebagai rangkaian penutup hajatan temanten kemarin seharusnya gelar wayang di Ancol atau TMII,” celetuk Petruk. “Selain nguri-nguri kebudayaan sekalian memberikan hiburan kepada rakyatnya,” sambung Petruk, ngeyel.

Berita Terkait : Argo Keloso Fashion Show

Romo Semar senyum pertanda mengamini yang dikatakan anaknya, Petruk. Romo Semar sebetulnya sedang galau dengan gonjang-ganjing sanksi pemblokiran kebijakan pendaftaran penyelenggara sistem elektronik (PSE). Pemblokiran platform di era digital merupakan kebijakan bener tapi kurang pener. Kalau tidak hati-hati, bukan tidak mungkin pemblokiran ini akan berdampak pada sektor ekonomi.

Seperti biasa, sarapan pagi Romo Semar ditemani kopi pahit dan ubi rebus. Sekali kali kepulan asap rokok klobot menari mengikuti apa kata sanubari. Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana goro-goro terjadi saat Prabu Kresna mengawinkan anaknya Dewi Siti Sundari.

 

Kocap kacarito, satu hari menjelang pesta perkawinan di Kerajaan Dwarawati terjadi keributan. Pasalnya calon pengantin putri yakni Dewi Siti Sundari yang akan dikawinkan dengan Abimanyu hilang diculik Duratmoko. Prabu Kresna bingung menghadapi musuh sakti yang berani memasuki wilayahnya. Untuk mencari keberadaan anaknya yang hilang tersebut, Prabu Kresna mengadakan sayembara. Siapa yang bisa menemukan kembali calon pengantin itulah yang berhak meminang anaknya.

Berita Terkait : Skandal Di Tirta Kamandanu

Abimanyu sedih karena calon istrinya hilang diculik tanpa terdeteksi oleh keamanan Dwarawati. Sebagai anak Arjuna, Abimanyu tidak mau menyerah begitu saja. Abimanyu minta tolong Semar untuk menunjukkan di mana keberadaan Siti Sundari yang hilang seperti ditelan bumi. Menurut Semar, Siti Sundari diculik oleh Teja Kusuma dari pertapaan Parang Kencana.

Tanpa membuang waktu Abimanyu bergegas menuju Parang Kencana. Terjadi pertempuran antara Teja Kusuma dan Abimanyu. Teja Kusuma dapat dikalahkan oleh Abimanyu. Namun orang tua Teja Kusuma yakni Resi Nindya Gupita datang membantu dan Abimanyu tidak mampu menghadapinya. Melihat momongannya kewalahan, Semar turun tangan. Dan Resi Nindya Gupito dapat dikalahkan Semar dan berubah wujud menjadi Togog yang tidak lain kakaknya Semar. Sedangkan Teja Kusuma jelmaan dari Mbilung. Keduanya ingin menguji seberapa besar cinta Abimanyu kepada Dewi Siti Sundari.

“Siti Sundari memang sudah jodohnya Abimanyu, Mo,” celetuk Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Yang namanya jodoh itu gampang-gampang susah. Seperti perjodohan antar elite politik yang sudah mulai ramai saat ini. Jangan-jangan di acara perhelatan perkawinan kemarin menjadi ajang mencari jodoh untuk maju pada tahun 2024 mendatang,” sahut Semar. [Oye]