Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bagaimana Merawat Kemabruran Haji? (9)

Memelihara Sikap Kedermawanan

Sabtu, 6 Agustus 2022 06:29 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Para jemaah haji diharapkan menjadi teladan di dalam kedermawanan, seperti yang dicontohkan para Nabi. Nabi Muhammad SAW misalnya, korma sebiji masih bisa dibelah dua sebagian untuk orang lain. Sifat ini diikuti oleh para sahabatnya seperti Umar ibn Khaththab yang menggendong sendiri gandum pemberian pribadinya ke fakir miskin.

Mungkin di sekitar kita juga masih banyak contoh. Bagaimana dengan kita? Kedermawanan mirip dengan kemurahan hati (al-jud), sama-sama berfungsi untuk mensucikan diri dan harta, bermurah hati, dan memenuhi janji dan komitmen sosial kita kepada Tuhan. Kedermawanan betul-betul berorientasi kepada pemecahan persoalan keumatan dan kemasyarakatan, bukannya kegiatan sosial yang mengharapkan pujian, kedudukan, kehormatan, dan pujian.

Kedermawanan juga berarti kita melakukan sesuatu yang baik beserta ahlinya dan yang bukan ahlinya. Jika dia bukan ahlinya, maka jadilah engkau ahlinya. Kalangan ulama juga ada yang mengartikan futuwwah sebagai seorang hamba yang selalu peduli terhadap urusan orang lain. Inilah yang diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW. “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong terhadap sesama saudaranya.”

Berita Terkait : Memelihara Rasa Optimisme

Dari segi ini, futuwwah bisa juga berarti memaafkan terhadap kesalahan saudaranya dan menutupi segala aibnya. Inilah derajat futuwwah yang paling rendah. Futuwwah juga bisa berati engkau menganggap dirimu tidak lebih utama dari pada orang lain dan dengan demikian futuwwah juga berarti engkau melayani dan tidak dilayani.

Kalangan ulama tasawuf mengartikan kedermawanan sebagai kerelaan hati untuk memberi bantuan dan pertolongan kepada sesama makhluk, tidak hanya terbatas pada manusia, melainkan juga makhluk lain, termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan benda mati, karena bagi mereka, dalam kamus Tuhan tidak ada benda mati, semua beribadah dan bertasbih kepada Tuhan. Para dermawan dalam kategori ini menganggap harta yang diberikan untuk kepentingan orang lain yang lebih butuh atau untuk kepentingan akhirat, lebih besar maknanya ketimbang harta yang disimpan untuk kepentingan diri sendiri.

 

Menurut Al-Junaid, kedermawanan berarti menahan diri dari segala yang menyakiti orang lain dan memberi makanan kepada orang lain. Ada juga yang mengatakan futuwwah adalah mengikuti sunnah. Ada juga yang mengatakan, futuwwah adalah menampakkan kenikmatan dan menyembunyikan cobaan. Ahamd bin Hambal mengatakan, futuwwah meninggalkan apa yang engkau inginkan demi yang engkau takuti.

Berita Terkait : Memelihara Rasa Malu

Futuwwah adalah seorang pemuda yang punya musuh sebagai akibat tangguhnya kepada sebuah prinsip. Ada juga yang mengatakan, futuwwah adalah seorang pemuda yang menghancurkan berhala besar, yaitu nafsunya sendiri. Hal ini diambil dari firman Allah dalam al-Qur’an “Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya’/21: 60).

Ulama lain mengatakan sumber kedermawanan adalah keimanan. Oleh karena itu, Allah menamai Ashab al-Kahf dengan “fityah” ketika mereka beriman kepada Tuhan mereka. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Kahf/18: 13).

Ada juga yang mengatakan, sesungguhnya mereka dinamakan “fityah”, karena mereka beriman kepada Allah tanpa perantara. Al-Junaid mengatakan, futuwwah dapat ditemukan di Syam, kefasihan bahasa di Irak, dan kejujuran di Khurasan. Kemudian, ketahuilah bahwa kebebasan itu lebih mulia dari pada kejujuran, dan futuwwah lebih utama lagi dari pada keduanya (kebebasan dan kejujuran). Kedermawanan mengingatkan kita kepada pesan surah Al-Ma’un, yang banyak mendapatkan penekanan khusus dari Rasulullah SAW. Semoga jamaah haji benar-benar bisa menjadi cotoh bagi masyarakat di sekitarnya tentang sikap kedermawanan ini. ■