Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur’an (6)

Teomorfisme Al-Qur’an (1)

Selasa, 28 Maret 2023 07:20 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Tidak heran jika manusia mampu mencapai ma'rifah tingkat lebih tinggi, yaitu maqam Qaba Qausain, dan selanjutnya ke maqam Adna, sebagaimana diilustrasikan dalam ayat: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan, hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (Q.S. Al-Najm/53:7-14).

Manusia sesungguhnya dalam fitrahnya sudah memahami dan sekaligus menyadari sepenuhnya setiap akibat atau kenyataan apapun yang menimpa dirinya merupakan konsekwensi dirinya sebagai makhluk yang menjadi locus/madhhar Allah SWT.

Baca juga : Antara Makna Eksoterik Dan Esoterik Al-Qur’an

Tidak mungkin manusia secara kolektif bersih dari dosa seperti halnya malaikat. Manusia sengaja diciptakan sebagai locus/madhhar sejumlah Nama Indah Tuhan (al-Asma’ al-Husna’). Sebagai contoh, Allah SWT mempunyai nama Maha Pencipta (al-Khaliq) dan Maha Pemberi (al-Wahhab). Sulit kita bayangkan Allah SWT Maha Pencipta dan Maha Pemberi tanpa ada makhluk dan obyek yang akan menerima pemberian.

Demikian pula Allah Maha Penerima Taubat (al-Tawwab), Maha Pengampun (al-Gafur), dan Maha Pemaaf (al-'Afuw). Sulit dimengerti asma' yang demikian tanpa ada makhluk pendosa. Mungkin dari sisi ini Rasulullah pernah menjelaskan dalam hadisnya: “Seandainya semua manusia tidak ada lagi yang berdosa maka Allah SWT  pasti akan menciptakan makhluk lain yang berdosa”. Tanpa makhluknya yang berdosa berarti Tuhan Maha Mengampun, Maha Penerima taubat, dan Maha Pemaaf hanya akan menjadi wacana tanpa bukti, sementara Allah SWT Maha Sempurna dengan segala nama dan sifat-Nya.

Baca juga : Struktur Makna Esoterik Al-Qur’an

Perlu ditegaskan, bahwa meskipun manusia ditakdirkan untuk berdosa, tapi tidak bisa dijadikan alasan pembenaran dosa. Memang Allah SWT al-Gafur, al-Tawwab, dan al-'Afuw, tetapi Allah SWT juga Maha Pembalas (al-Muntaqim) dan Maha Adil (al-'Adl). Siapa tahu bukan diri kita yang didatangi Tuhan bukan sebagai al-Tawwab, al-Gafur, dan al-'Afuw, maka malapetaka bagi kita.

Jika kita sudah telanjur berdosa, maka Allah SWT berhak membuka pintu maaf bagi yang dikehendakinya. Siapa yang dikehendaki untuk dimaafkan dan tidak dimaafkan, hanya Allah SWT yang Maha Tahu. Karena itu, manusia tidak boleh bermain-main dengan dosa dan harus menjauhi dosa jika ingin selamat dunia dan akhirat.

Baca juga : Analisis Makna Isyarah

Kekhususan dan keistimewaan manusia membuat manual khusus tata cara menjalani kehidupan sebagai makhluk teomorfis. Manual itu terhimpun rapi di dalam Kitab Suci Al-Qur’an ditambah dengan penjelasannya berupa perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi Muhammad Saw, atau bahkan menganugrahkan hambanya sebuah inspirasi cerdas dalam bentuk ilham (Devine Knowledge). (Bersambung).■

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.