Dark/Light Mode
Teologi Lingkungan Hidup (108)
Resakralisasi Alam Semesta: Mendamaikan Mitos Dan Logos (2)
Tausiah Politik
Sebelumnya
Akibatnya lebih lanjut, manusia kehilangan nuansa sakralitas di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan rumah-rumah ibadah yang selama ini dianggap sebagai tempat sakral berubah mejadi function rooms yang tidak memiliki nilai kharimatik. Masjid tidak lagi dianggap sebagai tempat sakral karena sudah dipenuhi dengan suguhan-suguhan rasional yang bersifat fragmatis.
Demikian pula soal waktu. Dahulu masyarakat masih menghargai adanya waktu-waktu yang sakral tetal, seperti malam atau hari Jum’at, malam atau tanggal 1 Muharram, dan bulan suci Ramadhan.
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta (1) Mendamaikan Mitos Dan Logos (1)
Akan tetapi sekarang sudah cenderung mengalami pergeseran.Waktu identik dengan uang atau nilai-nilai materi. Jika tidak bisa memberikan dampak keuntungan material maka itu akan mengalami pergeseran.
Apa jadinya jika sebuah masyarakat kehilangan nilai-nilai sakralitas, baik dalam hal tempat maupun waktu? Tentu manusia akan mengalami kerugian besar. Selain akan terjadi sekularisasi juga beriringan lahirnya provanisasi nilai-nilai sakral, yang pada akhirnya mengikis nilai-nilai kemanusiaan sejati. Manusia pada akhirnya kering dengan nilai-nilai spiritual yang merupakan kebutuhan asasi manusia.
Baca juga : Pembelajaran Dari Laut Mati
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Sabtu, 13 Januari 2024 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup (108), Resakralisasi Alam Semesta: Mendamaikan Mitos Dan Logos (2)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.