Dark/Light Mode

Meraih Berkah Bulan Sya’ban 10

Meningkat Dari Shadiq Ke Shiddiq 

Kamis, 22 Februari 2024 05:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Shadiq dan shiddiq sama-sama berasal dari kata sadaqah-yashduq berati percaya, membenarkan, kemudian membentuk beberapa kata lain termasuk shaadiq dan shiddiiq atau shaduuq. Shaadiq berarti mempercayai sesuatu setelah melalui proses panjang, misalnya menanti penjelasan yang masuk akal dan masuk di hati. Sedangkan shiddiiq atau shaduuq sebuah kepercayaan lebih mendalam dan tanpa harus menunggu proses penjelasan. Shaadiq masih terkontaminasi pengaruh akal dan pikiran, sedangkan shiddiiq sudah tidak lagi digoda oleh pikiran. Shaadiq masih sering terganggu oleh suasana mood seseorang, sehingga adakalanya percaya sangat dalam tetapi tiba-tiba kembali ragu. Dampaknya secara sosial orang yang baru sampai di maqam shadiq belum bisa dijamin melakukan ketaatan secara konseisten (istiqaamah) karena masih fluktuatif, masih riskan untuk terpengaruh faktor internal dan eksternal.

Baca juga : Meningkat Dari Syukur Dan Syakur

Ketika Nabi Muhammad Saw menceritakan panjang lebar pengalaman perjalanan sipritalnya dalam Isra’ Mi’raj, Sayyidina Umar ditanaya, apakah engkau percaya terhadap apa yang diceritakan Nabi barusan? Ia menjawab, sepertinya saya belum bisa percaya. Nanti setelah diyakinkan melalui penjelasan khusus dari Nabi baru ia percaya dan yakin. Selanjutnya ketika Sayyidina Abu Bakar ditanya dengan pertanyaan yang sama, Abu Bakar menjawab, lebih dari itu jika itu keluar dari mulut Nabi saya yakin dan percaya. Sayyidina Umar mungkin sementara bisa menjadi contoh orang yang percaya melalui penjelasan (shaadiq). Sedangkan Sayyidina Abu bakar menjadi contoh orang yang percaya tanpa syarat (shiddiiq). Itulah sebabnya kemudian Abu bakar diberi gelar al-shiddiq, sedangkan Umar tidak memperoleh gelar itu, meskipun pada akhirnya Umar juga sampai pada kualitas al-shiddiiq.

Baca juga : Meningkat Dari Tahmid ke Syukur

Dalam pandangan ulama tasawuf, sebagaimana diungkapkan Syekh Hasan Syadzali, salah seorang ulama tasawuf yang mu’tabarah (legitimated), seseorang yang sudah sampai ketingkat shiddiiq, sudah mampu menampilkan akhlak karimah. Amalan syari’ahnya sudah sempurna, karakternya diwarnai dengan muru’ah, sikapnya dihiasi dengan tawadhu, perilakunya dibungkus dengan zuhud, dan hati dan pikirannya disinari dengan keikhlasan. Ia sudah terbebas dari hijab dhulmani dan hijab nurani, mulai hidup di dalam bayang-bayang Al-Qur’an dan hadis, dan ma’rifah Allah sudah aktif bekerja di dalam dirinya, sudah mengenali sejumlah rahasia Tuhan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.