Dark/Light Mode

Menggapai Kesejukan Beragama (43)

Jangan Mengeksploitasi Ayat (1)

Jumat, 15 November 2019 06:23 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada seorang murtad di AS yang menggunakan nama samaran Gabril, alumni perguruan tinggi terkemuka di Mesir, entah kenapa ia menjadi murtad. Ia menulis sebuah buku: Islam and Terrorism.

Dalam buku itu diungkapkan The real terrorism is not the muslims but Al-Qur’an. Ia mengumpulkan sejumlah ayat, baru dipenggal-penggal kemudian dihubungkan satu sama lain, maka jadilah sebuah kesimpulan bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab kekerasan.

Baca juga : Lakum Dinukum Wa Liyadin (2)

Buku itu tentu saja membuat orang Islam tidak senang, bahkan bukan halnya kalangan muslim tetapi kalangan scholar sekuler pun, ikut menghujat buku itu.

Adanya kesengajaan untuk memberikan pemahaman keliru dan bersifat eksploitatif dari dalil-dalil agama, khususnya Al-Qur’an, yang pada akhirnya membangkitkan sikap radikalisme masyarakat dapat dihubungkan dengan Religious Hate Speech (RHS).

Baca juga : Lakum Dinukum Wa Liyadin (1)

Sebagai contoh, kompleksitas pendapat ulama fikih tentang identitas sebuah negara, apakah Daral Harb atau Daral Salam, bukan hanya berpengaruh dalam konsep kewarganegaraan, tetapi juga berpengaruh terhadap pemaknaan dali-dalil agama tentang perang.

Ada sejumlah ayat dan hadis dipahami secara dangkal dan terlalu skematis, yang bisa memprovokasi umat Islam, misalnya pemahaman terhadap ayat: “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka”. (QS. At-Taubah/9:5). Ayat ini sering dihubungkan dengan hadis: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia (non Islam) sampai mereka benar-benar mengucapkan Syahadat dan Muhammad pesuruh-Nya, mereka mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka melakukan perintah itu, maka selamatlah jiwa (darah) dan harta benda mereka karena memeluk Islam, dan semua urusannya milik Allah SWT”.

Baca juga : Mewaspadai Perbuatan Tidak Menyenangkan (2)

Kedua dalil ini didramatisasi sedemikian rupa oleh kelompok politisi muslim untuk mendirikan Negara Islam (Al-Daulah al-Islamiyyah) sebagai upaya untuk menerapkan syariat Islam dalam konteks sosial, politik umat Islam kontemporer.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.