Dark/Light Mode

Akhlak Nabi Terhadap Warga Non-Muslim (3)

Membantu Pembangunan Rumah Ibadah Non-Muslim

Sabtu, 3 Agustus 2024 05:55 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Suatu hal yang menakjubkan dari Nabi Muhammad SAW ialah menganjurkan untuk membantu pembangunan dan rehabilitasi rumah-rumah ibadah agama lain.

Beberapa keprihatinan yang dilakukan Nabi terhadap keterlantaran rumah-rumah ibadah agama lain, di antaranya ialah anjuran Nabi untuk membantu perbaikan rumah ibadah non-muslim seperti yang tertera dari surat Nabi Muhammad SAW kepada kaum Kristen Najran sebagaimana dikatakan: “Bila mereka membutuhkan bantuan dalam memperbaiki rumah ibadah mereka atau apa saja yang berkaitan dengan urusan agamanya, mereka bisa dibantu dan hal tersebut termasuk pengukuhan bagi mereka yang dapat mendukung maslahah untuk agama mereka. Itu dianggap sebagai komitmen untuk memenuhi janji Nabi yang telah diberikan ke­pada mereka, dan juga pemberian Allah kepada mereka”.

Baca juga : Membesuk Non-Muslim Yang Sakit

Surat Nabi ini luar biasa. Selain memberikan gambaran kearifan Nabi terhadap umat non-muslim juga secara implisit Nabi tidak pernah merasa ter­ancam dengan kehadiran rumah-rumah agama umat lain. Itulah sebabnya Nabi selalu menginstruksikan agar rumah-rumah ibadah jangan disamakan den­gan bangunan-bangunan lain.

Mungkin yang lain dapat dengan mudah dibong­kar atau dapat diruntuhkan tetapi rumah ibadah harus hati-hati. Rumah ibadah mewakili suasana batin para pemeluk agama itu dan jika batin yang dising­gung, maka itu bentuk penderitaan paling mendalam.

Baca juga : Membuka Pintu Bagi Warga Non-Muslim

Setiapkali prajuritnya menuju ke medan perang selalu Nabi menegaskan untuk tidak melakukan lima hal, yaitu jangan mengganggu kaum perempuan, jangan mengganggu anak-anak dan orang-orang tua bangka, jangan meru­sak rumah-rumah ibadah, dan jangan merusak pohon dan tanaman penduduk. Larangan-larangan tersebut sungguh sangat manusiawi. Kaum perempuan yang dianggap lemah dan memiliki status sosial yang sering termarginal­kan diberikan instruksi pertama untuk tidak mengganggu kaum perempuan di dalam medan jihad. Kaum perempuan sesungguhnya adalah ibu yang melahirkan kita. Boleh jadi itu anak dan saudara kita.

Dengan melakukan pendhaliman dan kekasaran terhadap mereka apa bedanya jika perlakuan itu ditujukan kepada keluarga dekat kita. Sama dengan anak-anak dan orang tua lemah, sangat tidak adil mendekatinya dengan pendekatan militer. Tawanan perang Badar di Madinah tidak di­jemur di bawah terik matahari tetapi diikat di masjid sambil diminta men­gajarkan keterampilan kepada warga masyarakat Madinah sesuai dengan bakat keterampilan masing-masing.

Baca juga : Memupuk Cinta Sejati Antara Sesama Makhluk

Ujungnya adalah pembebasan dan kemerdekaan bagi mereka yang secara nyata memberikan keuntungan nyata kepada masyarakat.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.