Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Yang dimaksud kata ‘bergetarlah hati mereka’ (wajilat qulubuhum) dalam ayat di atas ialah identifikasi paling mendalam di dalam hati akan keberadaan wahyu suci di dalam batin. Jika feeling itu sudah hadir maka seseorang bukan lagi memiliki kemampuan memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ayat-ayat Al-Qur’an sudah mampu menafsirkan diri yang bersangkutan.
Dengan demikian, Al-Qur’an dan manusia saling menafsirkan satu sama lain (Al-Qur’an yufassiru ba’dhuhum liba’dh). Tidak heran jika ada orang sama sekali tidak memahami bahasa Arab, apalagi memenuhi 13 syarat formal seorang mufassir sebagaimana dinyatakan oleh ulama tafsir.
Baca juga : Teomorfisme Al-Quran (1)
Mungkin orang belum masuk kategori mufassir tetapi sudah mampu menjadi mufahhim Al-Qur’an. Bedanya ialah, mufassir memiliki otoritas dan legitimasi khusus sehingga bisa menjadi hujjah bagi orang lain.
Sedangkan mufahhim kurang memiliki otoritas dan legitimasi, dan dibatasi hanya menjadi konsumsi untuk dirinya sendiri atau di lingkungan murid-murid khususnya. Meskipun antara keduanya berbeda tetapi tidak bisa dilegitiimasi bahwa temuan mufassir otomatis lebih shahih dan valid daripada temuan mufahhim.
Baca juga : Al-Quran Dan Antropomorfisme
Mungkin hanya mufahhim tetapi ia memiliki kemampuan ilmu khusus dari Tuhan (Divine knowledge). Sebaliknya mungkin mufassir tetapi hanya di dalam batas cognitive (knowing and understanding) tetapi belum masuk di dalam kategori realizing (Iqra’ ketiga).
Di antara kesulitan merasakan kehadiran wahyu di dalam kalbu karena belum jelasnya apa yang dimaksud wahyu. Kita sebagai bangsa Indonesia yang belum semuanya bisa menangkap dzauq al-lugah nahasa Arab, belum bisa merasakan makna semantik kata wahyu, karena kita tidak memiliki kosa kata yang sepadan dengan wahyu.
Baca juga : Membiasakan Istiqamah
Kita terpakas mengindonesiakan kata wahyu itu sebagai inspirasi cerdas dari Tuhan yang diperuntukkan kepada Nabi. Inspirasi cerdas yang durun kepada manusia non-nabi hanya bisa mengakses ilham ata ta’lim.
Dengan demikian, makna wahyu menjadi identik dengan Al-Kitab atau al-Qur’an. Padahal, ketiga istilah ini di samping mempunyai persamaan juga mempunyai perbedaan. Semua ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan atau al-Kitab (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an) adalah wahyu namun tidak semua wahyu adalah Al-Qur’an atau Al-Kitab).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.