Dark/Light Mode

Waspadai Ancaman Terorisme Akhir Tahun

Senin, 16 Desember 2019 06:20 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Paham radikalisme dan terorisme bisa dianalogkan dengan paham komunisme. Janos Kadar, sosok komunis yang lama berkuasa di Hungaria dalam biografinya menulis bahwa orang komunis sejati tidak pernah “tidur” apalagi menghilangkan keyakinannya akan kebenaran ideologi komunisme. Mereka bisa “jinak” selama puluhan tahun, dengan tetap bersikeras untuk bangkit lagi suatu hari. Begitu juga dengan kelompok-kelompok radikal di dalam negeri. Impian untuk mengubah Pancasila dan NKRI di dalam negeri masih tetap kuat, bahkan mungkin semakin kuat. Singkat kata, ancaman radikalisme dan terorisme di negara kita bukan pepesan kosong.

Baru pada Mei tahun 2018 kota Surabaya diserang rentetan ledakan bom. Minggu 13 Mei 2018 pukul 06.30 WIB menjadi pagi yang tidak akan pernah luput dari memori jemaat Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Sewaktu jemaat tengah khusyuk menjalani ibadah pagi, sebuah bom berdaya tinggi mengguncang gereja dan menewaskan tujuh orang. Sekitar 30 menit dari insiden di Santa Maria, ledakan bom mengguncang Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya. Kali ini pelakunya adalah seorang ibu rumah tangga, PK (43) yang mengajak dua anaknya berinisial F (9) dan F (12). Di sini, hanya PK dan dua anaknya yang tewas.

Baca juga : Ekonomi Yes

Pukul 07.53 WIB pada hari yang sama, DO (48) menabrakkan mobil Toyota Avanza yang dikendarainya ke gerbang Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Pada saat itu, ia pun meledakkan diri dari dalam mobilnya. Bangunan depan gereja dan belasan sepeda motor yang terparkir di area gereja hangus terbakar. Dua jemaat yang kebetulan bertugas mengatur parkir di gereja juga tewas.

Meningkatnya paham dan ideologi radikalisme terbukti dari modus operandi serangan terorisme di Indonesia akhir-akhir ini. Berdasarkan rekaman CCTV, ledakan yang terjadi di salah satu gereja Surabaya tahun lalu terjadi tidak lama setelah sepeda motor yang ditumpangi dua orang kakak beradik, Y (18) dan F (16) memasuki halaman gereja dan nyaris menghantam satu anggota gereja. Serangan terhadap GKI Diponegoro Surabaya dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga yang mengajak dua anaknya masingmasing BARU BERUSIA 9 dan 12 tahun!!

Baca juga : Garuda Dan Tuna Moralitas

Beberapa bulan yang lalu kami sudah mengingatkan Presiden Jokowi bahwa ancaman nomor wahid pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin adalah radikalisme dan terorisme. Kemiskinan, kesenjangan sosial-ekonomi, kian menumpuknya utang luar negeri dan pertumbuhan ekonomi yang tersendat-sendat, semua itu memang ancaman serius; tapi ancaman paling mengerikan tetap radikalisme dan terorisme, karena dapat merontokkan sendi-sendi NKRI dan Pancasila!

Semua pihak, termasuk Polri, harus diyakinkan bahwa terorisme BUKAN sekadar tindak pidana, melainkan tindakan kejahatan terhadap negara yang luar biasa. Seluruh dunia telah mengakui kebenaran paradigma ini tanpa keraguan sedikit pun. Oleh sebab itu, penindakan dan penanganannya harus dilakukan secara luar biasa (extraordinary) juga. Maka, pelibatan aparat TNI, khususnya intelijen TNI, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Undang-Undang AntiTerorisme sudah diperbarui tahun lalu melalui proses yang alot dan panas di DPR. Dalam UU yang baru itu, pelibatan TNI sudah dicantumkan secara gamblang. Persoalannya, UU Anti-Terorisme yang baru tetap sekadar lembaran-lembaran kertas sepanjang belum ada Peraturan Presiden sebagai juklaknya.

Baca juga : Inilah Gaya Komunikasi Presiden Kita

Maka, kami ingatkan seluruh aparat keamanan dan intelijen, terutama Polri, TNI, BAIS, BIN dan BNPT supaya JANGAN LENGAH, terutama menjelang tutup tahun. Kaum teroris hampir dipastikan sedang mencari peluang dan “timing emas”, mereka sama sekali belum lumpuh. Setiap kali terjadi serangan bom di Tanah Air, apalagi yang bernuansa masif dan sadis, dampaknya akan luas sekali, terutama dampak terhadap perekonomian dalam negeri. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.