Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Moderasi Beragama Di Indonesia (37)
Antara Jihad Dan Fasad (Bagian 2)
Tausiah Politik
Sebelumnya
Di sinilah peran ijtihad dan mujahadah untuk memberikan kejelasan dan motivasi kuat sebuah perjuangan. Tidak semua orang dapat melakukan ijtihad, seperti tidak semua prajurit langsung dapat menjadi jenderal. Ada persyaratan yang harus dipenuhi seseorang untuk dapat disebut mujtahid (orang yang menjalankan fungsi berfikir strategis). Dalam konteks fikih, seorang mujtahid harus menguasai bahasa Arab, ‘Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, muslim, dan praktisi muslim.
Dalam konteks sosiologi Islam, seorang mujtahid difigurkan sebagai seorang yang mampu memberikan sumbangan intelektual dalam membela dan mengangkat derajat umat Islam dalam berbagai segi.
Baca juga : Antara Jihad Dan Fasad (Bagian 1)
Seorang ilmuan muslim yang ahli dalam bidang ekonomi dapat menyumbangkan konsep-konsepnya dalam memberantas kemiskinan, seorang fisikawan muslim dapat menyumbangkan teknologi perang untuk kejayaan umat manusia, seorang ahli obat-obatan dapat menyumbangkan ramuan dan resep untuk kesehatan manusia, dan seorang dokter muslim dapat mengupayakan penyembuhan pasien dengan cara-cara islami dan seterusnya.
Sejumlah lima kali Allah menyerukan jihad tetapi selalu diawali dengan hijrah (wahajaru wajahadu). Ini mengisyaratkan bentrokan fisik harus dihindari sepanjang masih ada opsi lain, termasuk hijrah. Inilah Jihad para Nabi, termasuk jihadnya Rasulullah.
Baca juga : Belajar Kearifan Dari The Founding Fathers
Ia memilih hijrah ke beberapa tempat, termasuk Thaif dan kemudian yang paling penting ialah memilih hijrah ke Yatsrib (Madinah), bukannya mempertahankan diri dengan segala konsekwensinya.
Dengan demikian jihad tidak mesti identik dengan darah dan kematian. Jihad lebih dekat kepada kehidupan daripada kematian. Persepsi masyarakat internasional yang mengonotasikan jihad dengan fasad berupa aksi-aksi kekerasan, teror dan bunuh-bunuhan jelas keliru.
Baca juga : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas
Di sinilah perlunya deradikalisasi pemahaman jihad di dalam masyarakat. Deradikalisasi di sini bukan berarti ajaran Islam selama ini memang radikal sehingga perlu dilakukan deradikalisasi. Yang dimaksudkan deradikalisasi ialah pencerahan kembali sejumlah ayat dan hadis yang selama ini disandera oleh kelompok garis keras.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Jumat, 28 Februari 2025 dengan judul "Moderasi Beragama Di Indonesia (37) Antara Jihad Dan Fasad (Bagian 2)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.