Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
ESG Specialist
RM.id Rakyat Merdeka - Cerita Perjalanan Generasi Muda Saling Bantu Salurkan Energi dan Konektivitas
Ketika Sunyi Menjadi Tanda Awal Bencana
Bencana selalu datang membawa keheningan yang tidak biasa. Di Aceh, Medan, hingga Sumatera Barat, yang pertama kami rasakan bukan suara kepanikan, melainkan sunyi—sunyi karena listrik padam, sunyi karena sinyal menghilang, sunyi karena kabar dari luar tak lagi sampai. Rumah-rumah rusak, jalan terputus, dan warga bertahan dengan apa yang tersisa. Dalam situasi seperti ini, energi bukan lagi soal kenyamanan, tetapi soal bertahan dan tetap terhubung. “Di Aceh koneksi terbatas, mohon doa untuk kami” – ujar salah satu mahasiswa Universitas Syah Kuala yang sedang pulang ke rumah
Menuju Lokasi, Jalan yang Tidak Pernah Mudah
Perjalanan kami dimulai dari Aceh, wilayah yang selalu mengajarkan arti ketangguhan. Namun kali ini, tantangannya terasa berlapis. Beberapa lokasi terdampak hanya bisa dijangkau lewat jalur air. Logistik harus dipindahkan satu per satu ke perahu kecil—panel surya, baterai, dan perangkat komunikasi kami susun rapat, diikat seadanya agar tidak terjatuh. Perahu bergerak pelan melawan arus. Di titik-titik tertentu, sungai terlalu dangkal, memaksa kami turun dan mendorong perahu bersama-sama. Lumpur menahan langkah, tangan memegang sisi perahu agar muatan tetap seimbang. Tidak banyak kata terucap—hanya isyarat dan saling mengangguk. Kami tahu, di seberang sana, ada warga yang menunggu cahaya pertama setelah hari-hari panjang tanpa listrik.
Ketika Truk Berhenti dan Solidaritas Mengambil Alih
Di jalur darat, tantangan lain menunggu. Hujan yang turun tanpa jeda membuat jalan berubah menjadi lumpur licin. Truk pengangkut logistik melambat, lalu berhenti total. Ban berputar tanpa daya cengkeram, kendaraan miring, nyaris tergelincir ke sisi jalan. Kami turun serentak. Mesin dimatikan. Hening sesaat, lalu semua bergerak. Batu dan kayu dikumpulkan untuk mengganjal roda. Warga sekitar ikut membantu, meski mereka sendiri terdampak. Beberapa kali percobaan gagal. Kami berhenti sejenak, mengatur ulang, lalu mencoba lagi. Dorongan terakhir terasa paling berat—kaki terpeleset, tangan penuh lumpur—hingga akhirnya truk bergerak perlahan keluar dari jebakan. Tidak ada sorak sorai, hanya senyum tipis dan napas lega. Logistik harus terus berjalan.
Di Tengah Putusnya Sinyal, Energi Menjadi Penentu
Baca juga : Green Citizenship dan Green Communication, Cara Jitu Redam Eco-Anxiety
Di tengah perjalanan, keterbatasan komunikasi menjadi beban tersendiri. Di Aceh, sinyal muncul dan hilang tanpa pola. Pesan-pesan tertunda berjam-jam. Teman-teman yang memantau dari luar lokasi menunggu kabar dengan cemas, sementara kami berusaha memastikan semuanya aman di lapangan. Situasi ini semakin menegaskan satu hal: tanpa energi, bukan hanya warga yang terisolasi, tetapi juga seluruh rantai bantuan. Koordinasi melemah, keputusan melambat, dan kecemasan meningkat.
Anak Muda, Teknologi Sederhana, dan Solusi yang Relevan
Di sinilah peran generasi muda menemukan momentumnya. Kami datang tidak membawa solusi besar yang rumit, tetapi teknologi yang tepat guna. Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan baterai menjadi jawaban di lapangan: cepat dipasang, tidak bergantung pada bahan bakar, dan bisa langsung digunakan. Proses instalasi dilakukan bersama warga. Mereka membantu menggotong panel surya melewati jalan setapak, bertanya bagaimana sistem bekerja, dan ingin belajar merawatnya. Bagi kami, keberlanjutan tidak lahir dari alat semata, tetapi dari rasa memiliki.
Detik Ketika Cahaya Kembali Menemukan Jalannya
Menjelang sore, sistem akhirnya siap diuji. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya lembut. Kami memeriksa sambungan terakhir, memastikan baterai terhubung dengan baik. Gerak kami melambat, suara diturunkan. Salah satu dari kami menekan sakelar.
Ada jeda beberapa detik yang terasa panjang. Lalu, lampu kecil di sudut ruangan menyala. Tidak terang, tetapi cukup untuk mengubah suasana. Anak-anak yang sejak tadi diam mulai mendekat. Wajah-wajah lelah perlahan berubah.
Baca juga : Subsidi Rasa Bersama
Perangkat komunikasi kemudian dinyalakan. Layar ponsel menyala. Ikon sinyal muncul satu per satu. Internet kembali hidup.
Seorang warga mengirim pesan singkat kepada saudaranya di luar daerah: “Kami selamat. Listrik sudah ada.” Tak lama kemudian, balasan masuk. Senyum muncul, mata berkaca-kaca. Di sudut lain, relawan menghubungi posko luar daerah, memastikan bantuan berikutnya bisa segera menyusul. Di momen itu, kami menyadari bahwa energi tidak hanya menyalakan lampu—ia menghubungkan manusia, meredakan cemas, dan mengembalikan rasa bahwa mereka tidak sendirian.
Cahaya itu sederhana. Namun bagi mereka yang sudah lama berada dalam gelap, ia adalah kabar pulang.
Dari Aceh ke Medan dan Sumatera Barat, Pola yang Sama
Perjalanan ini berlanjut ke Medan dan Sumatera Barat. Medan menghadirkan tantangan jarak dan logistik, sementara Sumatera Barat menguji fisik dengan kontur wilayah yang berbukit dan akses jalan yang terbatas. Namun satu pola selalu sama: kolaborasi lintas pihak membuat yang berat terasa mungkin. Relawan lokal, komunitas, dan jejaring anak muda saling menguatkan. Tidak ada yang berjalan sendiri. Tidak lupa, ada tim Jakarta yang selalu memantau terhadap seluruh perkembangan ini
SRE dan Gerakan Kolektif Generasi Muda
Baca juga : Adam Alis Jadi Pahlawan Comeback Persib
Society of Renewable Energy (SRE) dalam perjalanan ini hanyalah satu contoh kecil dari banyak kelompok anak muda yang bergerak. Kami bagian dari generasi yang memilih untuk hadir. Di luar kami, banyak teman-teman lain berkontribusi—komunitas lokal, relawan independen, hingga para influencer yang membantu menyuarakan kondisi lapangan dan menggerakkan dukungan publik. Crowdfunding menjadi wujud nyata solidaritas itu. Donasi kecil yang dikumpulkan bersama berubah menjadi bantuan nyata di lapangan. Kepahlawanan generasi muda hari ini tidak selalu hadir di panggung besar, tetapi nyata di jalan berlumpur, di perahu kecil, dan di kerja kolektif yang sering luput dari sorotan.
2026 yang Lebih Kolaboratif, Berorientasi Manfaat Bersama
Di penghujung 2025, perjalanan ini memberi kami ruang untuk berhenti sejenak dan merenung. Bahwa bencana selalu menguji, tetapi juga mempertemukan. Bahwa generasi muda memiliki peran nyata ketika mau berkolaborasi, berbagi solusi, dan bergerak bersama.
Menuju 2026, harapan kami sederhana namun kuat: Indonesia yang lebih tangguh, lebih siap, dan lebih saling menjaga. Ketangguhan itu tidak lahir dari satu pihak, melainkan dari kerja kolektif—dari warga, relawan, komunitas, hingga generasi muda yang terus menyalakan cahaya di saat-saat paling gelap. Dan selama kolaborasi itu terus hidup, kami percaya, Indonesia akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit dan melangkah lebih kuat ke depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.