Dark/Light Mode

Menanti Kebangkrutan Maskapai Garuda

Senin, 31 Mei 2021 10:00 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Pengamat politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Satu hari menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021, berita duka menerpa bangsa Indonesia: Maskapai Garuda menunggu hari-hari kebangkrutannya. Garuda adalah perusahaan penerbangan yang disebut flag carrier, maskapai penerbangan milik negara. Sesuai namanya, Garuda, ideologi bangsa kita, Pancasila, juga berlogo Garuda. Sesungguhnya, nama “Garuda” diberikan langsung oleh Bung Karno, presiden pertama kita. Secara simbolik, Bung Karno bermimpi, bangsa dan negara kita kelak bisa seperti burung Garuda yang bisa terbang nun jauh ke mana saja, sekaligus melambangkan kejayaan dan kehebatan bangsa kita kelak.

Tapi, saat ini maskapai Garuda sedang ketimpa murung luar biasa. Kehidupannya seperti menunggu detik-detik terakhir alias bangkrut. Di sisi lain, situasi bangsa dan negara Indonesia pun sedang uring-uringan. Jika Garuda dililit utang sebesar Rp 70 triliun, negara kita dililit total utang hampir Rp 6.500 Triliun. Pandemi Covid-19 membuat perekonomian nasional nyaris babak-belur. Pengeluaran negara meningkat tajam karena harus menyelamatkan negara dari serangan Covid-19; di sisi lain, pendapatan negara terus melorot akibat kelesuan perekonomian.

Berita Terkait : Pinangki, Putusan Hukum Yang Mencoreng Wajah Hukum Indonesia

Utang Garuda yang seabrek-abrek, terutama, karena serangan Covid-19. Jumlah penumpang selama setahun lebih melorot tajam, sehingga penerimaan (income) perusahaan anjlok drastis sekali.

Kenapa Garuda menghadapi nasib begitu naas? Pesawat airbus 737 yang berjumlah 70-an, tinggal 25 yang beroperasi.

Berita Terkait : Yayasan PRT Jangan Sampai Menjadi Klaster Baru Covid-19

Kerugian besar yang dialami Garuda, antara lain disebabkan oleh operasi anak-anak perusahaan yang kurang menguntungkan/rugi. Hanya Citilink yang masih sehat/untung. Hal itu karena kantor Citilink, sebagian besar, “numpang” di kantor Garuda, sehingga biaya operasi perushaan berhasil ditekan signifikan. Tapi, anak perusahaan di bidang cargo kurang berhasil. Garuda hanya memiliki 2 atau 3 pesawat cargo. Pesawat cargo tidak dirancang sebagaimana mestinya; tapi konversi dari pesawat penumpang; hanya kursi-kursi penumpang yang dicopot/dikosongkan. Akibatnya, operasinya tidak efisien, kalah bersaing dengan maskapai-maskapai cargo lain.
 Selanjutnya