Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- BPJS Ketenagakerjaan Bekali Ahli Waris Jadi Wirausaha Lewat Program PEKA
- PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Tausiah Politik
Sebelumnya
Salah satu yang paling berpengaruh secara universal ialah mitos selaput dara. Seorang perempuan yang belum bersuami secara budaya dan agama dipaksa untuk mempertahankan keperawanannya yang ditandai dengan keutuhan selaput dara (virginity). Karena itu, dalam alam bawah sadar perempuan, keperawanan adalah kehormatan yang teramat tinggi dan tak ternilai harganya. Perempuan seolah merasa terancam masa depan dunia akhiratnya jika selaput keperawanannya bermasalah.
Baca juga : Spiritualitas Ejakulasi (2)
Mitos selaput dara selalu dikaitkan dengan keperawanan. Konsep keperawanan ini juga dihubungakan dengan persoalan teologi. Dalam teologi Kristen, keperawanan Bunda Maria harus dipertahankan karena berpengaruh pada kredibilitas Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan. Jika ternyata Yesus Kristus lahir dari perempuan yang tidak perawan, maka kridibilitas ketuhanan Yesus dipersoalkan. Yesus Kristus legitimed sebagai anak Tuhan karena terlahir dari sang perawan Bunda Maria. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.